Saham Emiten Emas, Tembaga, dan Nikel Melesat pada Perdagangan Hari Ini

Saham Emiten Emas, Tembaga, dan Nikel Melesat pada Perdagangan Hari Ini
Ilustrasi: Saham emiten tambang emas, tembaga, dan nikel menguat signifikan pada perdagangan Jumat (3/7/2026). (Foto: NET)

JAKARTA – Saham emiten tambang emas, tembaga, dan nikel menguat tajam pada perdagangan Jumat (3/7/2026), seiring dengan reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah penguatan harga komoditas logam. Kenaikan ini dipicu oleh melemahnya dolar Amerika Serikat dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat dirilis lebih lemah dari perkiraan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pukul 09.59 WIB, saham emas PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melonjak 10,27 persen ke Rp1.020 per unit. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusul dengan kenaikan 7,41 persen ke Rp1.020 per unit, sementara PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meningkat 6,68 persen ke Rp4.630 per unit.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 6,30 persen, diikuti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) 4,87 persen, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) 1,92 persen. Saham lainnya seperti PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) menghijau 6,16 persen, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) 6,12 persen, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 5,37 persen.

Saham sektor lainnya juga turut menguat, seperti HRUM sebesar 4,96 persen, NCKL 4,29 persen, NICL 3,48 persen, DKFT 3,20 persen, dan TINS 2,99 persen. Harga emas dunia sendiri naik lebih dari 1 persen pada Jumat (3/7/2026) dan menuju kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir.

Emas spot tercatat naik 1,4 persen menjadi USD4.179,94 per troy ons pada pukul 09.35 WIB, yang merupakan level tertinggi sejak 23 Juni. Penguatan ini didorong oleh data nonfarm payrolls serta payroll sektor swasta yang lebih rendah dari perkiraan sehingga meredam kekhawatiran terhadap inflasi.

Analis Pasar Senior OANDA, Kelvin Wong, menyatakan bahwa pasar saat ini melihat berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk sisa tahun ini hingga kuartal I-2027. "Yang kami lihat adalah berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk sisa tahun ini maupun kuartal pertama tahun depan. Hal itu terutama dipicu oleh data pasar tenaga kerja AS yang cukup mengecewakan kemarin," kata Wong sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls hanya bertambah 57.000 lapangan kerja, jauh di bawah perkiraan 110.000 pekerjaan. Akibatnya, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September hanya sekitar 54 persen, turun dari 66 persen sebelumnya.

Kendati demikian, Wong menilai bahwa peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang. "Kami belum melihat ekspektasi kenaikan suku bunga benar-benar hilang. Menjelang akhir tahun, masih ada potensi pelemahan lanjutan pada harga emas, dengan harga berpeluang turun ke kisaran USD3.500 per ons," ujar Wong sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sementara itu, harga logam dasar juga menunjukkan tren penguatan pada awal perdagangan Asia. Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,7 persen menjadi USD13.416 per ton, sedangkan nikel menguat 1,7 persen dan aluminium bertambah 0,6 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index