IHSG Tertekan Selama 6 Bulan, Mampukah Tren Positif Juli Terjadi?

IHSG Tertekan Selama 6 Bulan, Mampukah Tren Positif Juli Terjadi?
Ilustrasi: Investor mencermati potensi tren positif IHSG pada Juli setelah tekanan enam bulan berturut-turut. (Foto: NET)

JAKARTA – Memasuki Juli, investor di pasar saham kembali menantikan pola musiman yang selama ini menjadi salah satu penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, setelah mengalami tekanan sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, muncul pertanyaan besar mengenai apakah tren positif di bulan Juli masih mampu terulang kembali.

Berdasarkan data seasonality IHSG selama 10 tahun terakhir, Juli menjadi salah satu bulan dengan kinerja terbaik karena indeks selalu mencatatkan kenaikan.

Dalam periode 2016-2025, IHSG mencatat probabilitas kenaikan 100 persen pada bulan Juli, dengan seluruh periode berakhir di zona hijau dan rata-rata imbal hasil mencapai sekitar 2,88 persen.

Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh tren penguatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Tercatat IHSG naik 8,04 persen pada Juli 2025, setelah sebelumnya menguat 4,05 persen pada Juli 2023, 2,72 persen pada Juli 2024, serta 0,57 persen pada Juli 2022.

Meski demikian, pola musiman Juli tidak selalu sekuat itu jika periode pengamatan diperpanjang.

Dalam 15 tahun terakhir (2011-2025), Juli tetap menjadi bulan yang cenderung positif, namun tingkat konsistensinya sedikit menurun.

Berdasarkan data tersebut, IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 15 periode Juli, dengan probabilitas penguatan sekitar 87 persen.

Rata-rata return Juli dalam periode yang lebih panjang berada di kisaran 2,50 persen, menjadikannya salah satu bulan terbaik bagi IHSG setelah Desember.

Pelemahan di bulan Juli pernah terjadi pada periode 2011 dan 2015, ketika pasar saham global menghadapi tekanan akibat krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi China.

Di luar periode tersebut, bulan Juli relatif sering menjadi momentum pemulihan bagi IHSG.

Pola musiman tersebut hanya mencerminkan kecenderungan historis dan tidak menjamin arah pergerakan indeks di masa depan.

Kondisi ini membuat Juli 2026 menjadi periode yang menarik untuk dicermati karena IHSG memasuki bulan ini dengan catatan yang kurang baik.

Berdasarkan data historis sejak 1997, indeks saham acuan tersebut untuk pertama kalinya mencatat pelemahan dalam enam bulan pertama tahun berjalan, setelah periode Januari hingga Juni 2026 berakhir di zona merah.

Rentetan ini sekaligus menyamai rekor pelemahan bulanan terpanjang IHSG yang pernah terjadi pada Mei-Oktober 2002 dan Juni-November 2008.

Tren penurunan tersebut membuat IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini.

Hingga penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026), IHSG telah turun 34,74 persen secara year to date ke level 5.643,19.

Saat ini, investor tengah mencermati sejumlah sentimen domestik, mulai dari pengumuman indeks global MSCI mengenai status Indonesia di emerging market pada November mendatang hingga kondisi fiskal dan tekanan inflasi.

Faktor lain yang turut dipantau adalah penilaian S&P, pergerakan nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran terhadap rasio pembayaran utang pemerintah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index