JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) tengah merancang berbagai strategi dalam rangka memulihkan performa bisnisnya pada tahun 2026. Fokus perusahaan terletak pada efisiensi operasional pabrik, penataan kembali portofolio produk, serta pemaksimalan fungsi fasilitas manufaktur.
Langkah strategis ini mencakup penerapan lean manufacturing, penataan ulang porsi portofolio produk, serta optimalisasi fasilitas produksi untuk lini steril dan herbal. Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk meningkatkan daya saing serta pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat daya saing melalui pengembangan portofolio produk, optimalisasi fasilitas produksi, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sahat menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi momen konsolidasi bagi perusahaan.
Kebijakan efisiensi dan pengetatan pengeluaran operasional telah memberikan hasil positif terhadap perbaikan kinerja dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2025, INAF mencatat nilai penjualan bersih sebesar Rp 151,5 miliar.
Meski masih mencatatkan hasil negatif, jumlah rugi bersih perseroan menyusut 76,7 persen menjadi Rp 77,9 miliar dari posisi Rp 334,5 miliar pada tahun 2024. Peningkatan ini didorong oleh pemangkasan beban umum dan administrasi sebesar 55,2 persen serta optimalisasi pendapatan lainnya.
Posisi neraca keuangan INAF juga menunjukkan tren positif dengan defisiensi modal yang menyusut ke angka Rp 707 miliar. Hal tersebut sejalan dengan keberhasilan perusahaan dalam mengurangi kewajiban jangka pendek hingga 58 persen.
Selain itu, INAF mencatat kenaikan penjualan ekspor sebesar 11,9 persen pada tahun 2025. Perusahaan juga sukses memotong ongkos operasional hingga 55,7 persen sebagai bagian dari program transformasi.