JAKARTA – Persepsi risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia naik pada pertengahan Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, CDS lima tahun Indonesia tercatat naik ke level 89,73 poin pada Senin (18/5/2026), dari 87,09 poin pada Jumat (15/5/2026).
Kenaikan CDS ini sejalan dengan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 124,08 poin atau 1,85% menjadi 6.599,24 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/5/2026). Sementara yield SBN 10 tahun di dalam negeri meningkat ke 6,85% pada Senin dari 6,69% di akhir pekan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa kenaikan CDS umumnya mencerminkan pasar yang meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk menahan aset Indonesia.
Rully bilang lonjakan CDS dan yield SBN dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi konflik geopolitik, harga minyak yang bertahan tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Sementara dari dalam negeri, sentimen dipicu oleh pelemahan rupiah serta kekhawatiran terhadap ruang fiskal dan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Rully kepada Kontan, Senin (18/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rully menambahkan, kenaikan CDS dan yield SBN menunjukkan harga obligasi negara mengalami penurunan. Kondisi ini membuat investor yang telah memiliki SBN sebelumnya berpotensi mengalami unrealized loss secara mark-to-market. Namun, di sisi lain, kenaikan yield dinilai membuka peluang bagi investor baru untuk memperoleh imbal hasil carry yang lebih menarik.
Adapun di pasar saham, peningkatan premi risiko cenderung mendorong investor keluar dari aset berisiko seperti saham, sehingga menekan IHSG dan meningkatkan volatilitas pasar.
Secara terpisah, pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menyampaikan bahwa kenaikan CDS menunjukkan pelaku pasar menilai risiko investasi di Indonesia sedang meningkat. Namun, peningkatan risiko itu bukan berarti Indonesia berada di ambang gagal bayar.
“CDS itu memang naik turun. Sekarang naik dari sekitar 70 poin di bulan lalu ke 89 poin. Itu masih wajar. Kekhawatiran pasar lebih dipicu oleh pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap defisit APBN,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Teguh menambahkan bahwa pelaku pasar global saat ini mencermati besarnya belanja pemerintah dan pelebaran defisit anggaran, termasuk berbagai program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG) dan pembiayaan koperasi. Investor asing, kata dia, pada dasarnya lebih fokus pada besaran defisit fiskal dibandingkan dengan penggunaan anggaran itu sendiri.
Meski demikian, Teguh menilai posisi CDS Indonesia saat ini masih relatif aman karena masih berada di bawah level psikologis 100 poin. Ia membandingkan kondisi sekarang dengan masa pandemi Covid-19 pada 2020 ketika CDS Indonesia sempat melonjak hingga sekitar 200 poin.
“Waktu pandemi Covid-19 itu CDS sempat naik sampai 200. Saat itu pasar benar-benar menganggap risiko gagal bayar meningkat tajam. Bukan cuma saham yang anjlok, obligasi juga ikut anjlok,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Teguh menegaskan, kenaikan CDS juga tidak otomatis menurunkan keuntungan investor obligasi. Sebaliknya, kondisi saat ini justru membuat yield SBN meningkat sehingga potensi imbal hasil investor menjadi lebih besar.
Lebih lanjut, Teguh mengatakan kenaikan CDS juga berkaitan dengan kondisi pasar saham, meski tidak secara langsung. Pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dinilai membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap seluruh aset keuangan Indonesia, baik saham maupun obligasi.
“Kalau rupiah melemah terus, otomatis persepsi risiko investasi di Indonesia mau saham dan obligasi ikut naik,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ke depan, arah CDS Indonesia dinilai akan sangat bergantung pada langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah. Pasar akan mencermati data defisit APBN yang diperbarui secara berkala setiap bulan maupun kuartal.
“Kalau data fiskalnya membaik, CDS bisa turun. Tapi kalau kondisi memburuk, CDS masih berpotensi naik,” tutupnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.