Harga Minyak Brent Dekati 106 Dolar AS Saat Konflik Iran Masih Suram

Harga Minyak Brent Dekati 106 Dolar AS Saat Konflik Iran Masih Suram
Ilustrasi Harga Minyak Brent (Gambar: pintu.co.id)

JAKARTA – Harga minyak dunia saat ini tengah mengarah pada tren kenaikan mingguan sebagai imbas dari penutupan jalur vital di Selat Hormuz yang masih berlangsung hingga sekarang.

Sampai detik ini, upaya-upaya untuk menyudahi peperangan tampak masih suram, dan gangguan yang menghambat pasar global diperkirakan bakal terus berlangsung.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini bertengger di kisaran US$102 per barel, dengan peningkatan harga berjangka yang menyentuh hampir US$7.106 pada hari Kamis.

Blokade laut yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran tetap berjalan, dibarengi dengan situasi perairan di wilayah tersebut yang masih sangat berisiko bagi aktivitas pelayaran.

Dilaporkan bahwa sebuah kapal komersial ditangkap oleh pihak yang tidak memiliki otoritas di pintu masuk selat, yang kemudian digiring menuju kawasan perairan Iran.

Berdasarkan informasi dari pejabat Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump telah melangsungkan pertemuan dengan pemimpin China, Xi Jinping, pada hari Kamis.

Keduanya mendiskusikan langkah-langkah untuk menjaga keterbukaan Selat Hormuz demi menyokong perdagangan energi, sekaligus memperluas distribusi minyak AS ke negara Asia tersebut.

Walaupun demikian, laporan resmi dari pihak China terkait pertemuan itu tidak mencantumkan sektor energi dalam daftar bahasan, meski mengakui adanya pembicaraan mengenai kawasan Timur Tengah.

Melalui unggahan di Truth Social pada Jumat dini hari, Trump menyatakan bahwa “pemusnahan militer Iran [akan dilanjutkan!]”, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia juga menyertakan harapan bahwa “semoga hubungan kami dengan China akan lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya!”, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Badan Energi Internasional (IEA) pada minggu ini menyebutkan bahwa peperangan ini memicu kemerosotan cadangan minyak dunia dengan kecepatan yang menorehkan rekor.

Pasar diprediksi akan mengalami kondisi “sangat kekurangan pasokan” hingga bulan Oktober, yang tetap berlaku meskipun pertempuran berakhir pada bulan depan.

Data dari AS yang terbit pada Selasa lalu juga mempertegas bagaimana konflik tersebut memicu kembali inflasi, yang menambah beban domestik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada bulan November.

Dennis Kissler, selaku wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc., memberikan analisisnya.

“Saya pikir jalur resistensi terendah dalam jangka pendek untuk harga tetap condong ke sisi bullish karena kami terus melihat persediaan minyak mentah dan bahan bakar menyusut,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menambahkan bahwa “Karena kesepakatan saat ini masih jauh dari titik temu, eskalasi ketegangan lebih mungkin terjadi daripada tidak,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Meskipun gencatan senjata sudah diupayakan sejak awal April di tengah berbagai insiden, pihak Washington dan Teheran terlihat belum menunjukkan kemajuan berarti dalam mendamaikan perbedaan kedua belah pihak.

Belum lama ini, Trump menyebutkan bahwa gencatan senjata tersebut berada dalam "kondisi kritis," sambil memberikan cibiran atas respons Iran terhadap proposal pengakhiran perang yang diajukannya.

Mengenai detail harga, WTI untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan 0,7% ke posisi US$101,91 per barel pada pukul 6.56 pagi di Singapura. Sedangkan Brent untuk pengiriman Juli ditutup tidak banyak berubah di angka US$105,72 per barel pada perdagangan Kamis waktu setempat.

Semenjak konflik pecah, tercatat hanya segelintir kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia, yang mengakibatkan terkurasnya aliran energi utama, termasuk gas alam, ke pasar global.

Namun, langkah perusahaan dagang Vitol Group yang menawarkan minyak mentah Irak kepada pembeli menjadi indikasi bahwa sejumlah kargo kemungkinan telah berhasil keluar dari area Teluk.

Berdasarkan pengumuman Badan Informasi Energi (EIA) pekan ini, volume aliran minyak mentah serta bahan bakar yang melewati Selat Hormuz merosot hingga hampir 6 juta barel per hari pada kuartal pertama setelah terjadinya permusuhan di akhir Februari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index