JAKARTA – Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dianggap masih mempunyai daya tarik untuk dimiliki oleh para investor, sejalan dengan kondisi fundamental yang tetap kokoh walaupun harga sahamnya sempat tertekan belakangan ini.
Pada akhir perdagangan pekan ini, posisi saham BNGA bertengger di level Rp 1.675 per saham, mencatatkan kenaikan tipis 0,30% dalam kurun waktu sepekan.
Akan tetapi, apabila ditinjau dalam periode satu bulan terakhir, saham ini masih mengalami koreksi yang lumayan dalam, yakni merosot sebesar 7,97%.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan penilaian bahwa prospek BNGA tetap positif yang ditopang oleh kinerja bisnis stabil serta potensi pembagian dividen yang menggiurkan.
“Prospek BNGA sebenarnya masih baik karena adanya keseimbangan antara growth maupun income,” ujar Nafan kepada Kontan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari aspek valuasi, Nafan memandang bahwa saham BNGA saat ini masih berada di zona undervalued atau diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Situasi tersebut membuat saham perbankan ini dinilai masih memiliki celah untuk mengalami penguatan di masa mendatang.
Menilik pada kinerja kuartal I-2026, BNGA membukukan laba bersih senilai Rp 1,76 triliun, atau terkontraksi 2,22% secara tahunan (YoY). Walaupun begitu, penyaluran kredit tetap mampu tumbuh 2,2% YoY menjadi Rp 235,1 triliun.
Perkembangan ini turut memicu kenaikan aset konsolidasi hingga mencapai Rp 368,2 triliun. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 260,1 triliun atau meningkat 2,3% yoy.
Komposisi dana murah (CASA) juga menunjukkan peningkatan signifikan mencapai 12,2% yoy menjadi Rp 192,3 triliun, yang dianggap sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas pendanaan bank.
“CASA BNGA ini tinggi jadi bisa memberikan perlindungan cukup bagi para pemegang saham,” kata Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengenai strategi bisnis, Nafan turut menggarisbawahi kebijakan BNGA yang telah melaksanakan spin off unit usaha syariah dengan mendirikan PT Bank CIMB Niaga Syariah. Kebijakan ini dianggap mampu menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan.
Selain itu, BNGA juga dipandang memikat dari aspek imbal hasil dividen. Untuk tahun buku 2025, perusahaan menyalurkan dividen dengan rasio pembayaran (payout ratio) sekitar 60% atau setara dengan Rp 4,07 triliun.
“Ini bisa menjadikan BNGA pilihan menarik bagi investor yang mencari passive income,” tutur Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.