JAKARTA – Penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri Sukuk Tabungan 016 (ST016) menorehkan permulaan yang terbilang cukup positif. Selama satu minggu masa penawaran berlangsung, nilai penjualan ST016 telah berhasil melewati angka 30% dari target yang dipatok oleh pemerintah.
Pemerintah melakukan penawaran ST016 terhitung sejak 8 Mei 2026 sampai dengan 3 Juni 2026 atau mencakup masa penawaran selama 26 hari. Instrumen investasi berbasis syariah ini menjadi salah satu opsi bagi masyarakat di tengah keperluan akan aset yang stabil serta memberikan imbal hasil yang kompetitif.
Merujuk pada data dari bibit.id, realisasi penjualan ST016 untuk tenor dua tahun (ST016T2) telah menyentuh angka 37,4%, sementara untuk tenor empat tahun (ST016T4) tercatat sebesar 37,6%.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual berpendapat bahwa pencapaian tersebut masuk dalam kategori cukup baik mengingat periode penawaran yang tersedia masih lumayan panjang. Meski begitu, kesuksesan dari penjualan ST016 tetap akan ditentukan sampai berakhirnya masa penawaran.
"Jika dibandingkan dengan ST015, minat investor pada awal penawaran untuk ST016 tenor 2 tahun lebih rendah dengan besaran ST016 sebesar 37,4% dan ST015 sebesar 63%," kata David, Rabu (13/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, hasil penjualan ST016 dengan tenor empat tahun menunjukkan angka yang relatif identik dengan ST015 tenor 4 tahun yang juga berada pada kisaran 30% di awal periode penawaran.
Menurut David, daya tarik utama dari ST016 berasal dari sifatnya yang menyerupai deposito. Instrumen ini mendapatkan jaminan dari negara, memberikan pembayaran kupon setiap bulan, serta mempunyai tarif pajak yang lebih ekonomis dibandingkan deposito, yakni cuma sebesar 10%.
Selain itu, ST016 menawarkan skema kupon floating with floor. Lewat mekanisme ini, level imbal hasil berpeluang naik mengikuti tren kenaikan suku bunga acuan, namun tetap dipastikan memiliki batas minimal di atas 6%.
ST016 tidak hanya menawarkan keuntungan dari sisi finansial, tetapi juga mengusung prinsip syariah. Dana yang terkumpul dari hasil penerbitan ini turut dimanfaatkan guna pembiayaan berbagai proyek ramah lingkungan, sehingga menjadi daya tarik bagi investor yang memperhatikan aspek keberlanjutan dalam aktivitas investasinya.
Proyeksi permintaan terhadap ST016 dinilai masih cukup memadai, terutama di tengah kebutuhan para investor akan instrumen investasi yang lebih ajek dengan imbal hasil yang relatif tinggi dalam jangka waktu pendek.
"ST016 dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan instrumen investasi stabil dengan tingkat imbal hasil menarik," tutur David sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bahkan, David memiliki perkiraan bahwa ST016 mempunyai peluang besar untuk memenuhi target penjualan pada saat berakhirnya masa penawaran nanti.
Walaupun demikian, para investor tetap harus memperhatikan risiko utama dari ST016, yaitu sifatnya yang non-tradable sehingga tidak dapat diuangkan sewaktu-waktu seperti halnya instrumen yang diperjualbelikan di pasar sekunder.