Bitcoin Dekati 83.400 Dolar AS, Pasar Pantau Inflasi AS dan Tensi Iran

Bitcoin Dekati 83.400 Dolar AS, Pasar Pantau Inflasi AS dan Tensi Iran
Ilustrasi Bitcoin (GAMBAR: smallbiztrends.com)

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) terpantau mengalami kenaikan hingga menembus level USD81.000 sepanjang akhir pekan, di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat serta tensi geopolitik yang terjadi antara AS dan Iran.

Secara teknikal, target selanjutnya untuk Bitcoin berada pada kisaran USD 83.400 berdasarkan proyeksi Fibonacci retracement sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) memperlihatkan bahwa momentum penguatan masih terus terbentuk sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pasar saat ini tengah menanti sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat pada pekan ini. Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) dijadwalkan akan dirilis pada hari Selasa, diikuti oleh Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Rabu, serta data penjualan ritel pada hari Kamis.

Selain itu, laporan bulanan dari OPEC juga dijadwalkan terbit pada pertengahan pekan ini. Sementara itu, hari Jumat akan menjadi hari terakhir bagi Jerome Powell menjabat sebagai Ketua Federal Reserve sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah sorotan terhadap data ekonomi tersebut, mantan Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan kritik terhadap Iran. Trump menuding bahwa Iran telah “mengulur waktu” Amerika Serikat selama 47 tahun.

Ia juga turut menyinggung pemerintahan mantan Presiden Barack Obama yang disebut pernah memberikan dana miliaran dolar kepada Teheran, termasuk uang tunai senilai USD 1,7 miliar sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Trump menyebut dana tersebut menjadi “durian runtuh” bagi rezim Iran serta memberi napas finansial bagi pemerintah Teheran. Namun, Trump tidak mengumumkan adanya sanksi baru ataupun langkah militer tambahan.

Pernyataan tersebut muncul ketika reli akhir pekan Bitcoin tengah menguji area resistensi di dekat level USD 81.000 sehingga meningkatkan fokus pasar terhadap risiko geopolitik di pasar kripto sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pelaku pasar memberikan penilaian bahwa rilis data CPI pada hari Selasa menjadi indikator yang paling penting bagi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Data inflasi yang tercatat lebih rendah dari perkiraan biasanya akan mendukung aset berisiko seperti kripto, sedangkan inflasi yang lebih tinggi dapat memperkecil peluang pemangkasan suku bunga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain data CPI dan PPI, data penjualan ritel serta produksi industri AS pada akhir pekan juga diperkirakan mampu mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed hanya dalam hitungan menit saja.

Trader kripto juga menyoroti faktor geopolitik sebagai risiko tambahan bagi pergerakan Bitcoin sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Jangan pernah terlalu percaya reli akhir pekan Bitcoin,” tulis Trader Killa dalam unggahan media sosialnya.

Pada perdagangan terakhir, Bitcoin berada pada level USD 81.269 dan masih bergerak dalam pola ascending channel yang sudah terbentuk selama sebulan terakhir.

Harga BTC saat ini mendekati area 200-day exponential moving average (EMA) pada level USD 82.036 yang merupakan resistance utama sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bitcoin sendiri telah pulih sekitar 35 persen dari titik terendah pada bulan Februari di kisaran USD 60.000, yang didukung oleh arus masuk dana ke produk spot Bitcoin ETF.

Meski begitu, indikator momentum mulai menunjukkan adanya sinyal campuran ketika Bitcoin tertahan di bawah garis tren jangka panjang yang sejak Januari menjadi area penolakan harga sebagaimana dilansir dari sumber berita.

RSI harian Bitcoin saat ini berada pada level 65,56, sementara rata-rata pergerakannya berada pada angka 61,89. Kedua indikator tersebut masih berada di atas level netral 50 yang menunjukkan bahwa pembeli masih mengendalikan arah harga jangka pendek.

Namun, pasar juga mulai mewaspadai potensi area jenuh beli (overbought) apabila RSI menembus level 70 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara teknikal, apabila Bitcoin berhasil menembus resistance EMA 200 hari pada USD 82.036, maka target berikutnya berada pada level Fibonacci retracement 61,8 persen di angka USD 83.399.

Jika momentum terus berlanjut dan tekanan jual mampu diserap pasar, proyeksi berikutnya mengarah ke kisaran USD 86.500 dalam beberapa pekan mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, area support penting Bitcoin berada pada level USD 78.915. Jika harga turun hingga di bawah area tersebut, maka risiko koreksi menuju USD 74.431 sampai USD 68.884 kembali terbuka. Arus dana ETF masih menjadi katalis utama pasar kripto saat ini.

Pada akhir April lalu, total net inflow ETF Bitcoin spot mencapai sekitar USD 2,7 miliar selama sembilan sesi perdagangan berturut-turut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Produk ETF Bitcoin milik BlackRock, IBIT, dan Fidelity, FBTC, masih mendominasi aliran dana tersebut. Total aset produk Bitcoin spot di Amerika Serikat kini telah melampaui USD100 miliar dan dinilai menjadi penopang utama reli Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index