JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bakal mengalami penguatan dalam rentang terbatas pada sesi perdagangan Senin (11/5/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan sebesar 2,86 persen pada penutupan pekan lalu.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan bahwa pergerakan IHSG akan berada pada level support 6.946 dan resistance pada level 7.049. Potensi kenaikan tersebut dinilai masih terbatas lantaran para pelaku pasar cenderung bersikap waspada menyusul koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Untuk Senin, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.946 dan resist 7.049, dimana kami perkirakan adanya technical rebound setelah terjadi tekanan pada hari Jumat kemarin,” ujar Herditya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan penilaian bahwa posisi IHSG saat ini berada dalam fase yang rentan terhadap koreksi lanjutan. Hal tersebut terjadi lantaran indeks gagal mempertahankan posisi di area psikologis 7.000. Dalam jangka pendek, pergerakan indeks memiliki kecenderungan untuk menguji level support penting pada kisaran 6.917. Jika level tersebut tertembus atau breakdown, maka indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support selanjutnya di level 6.876 sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Walaupun demikian, selama area support tersebut mampu dipertahankan, peluang untuk terjadinya technical rebound dinilai masih terbuka lebar, terutama apabila ketegangan geopolitik mulai mereda dan harga minyak dunia kembali stabil sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Meski demikian, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi karena investor global menunggu data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan konflik di Selat Hormuz,” kata Hendra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pandangannya, di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, para investor mulai mengalihkan rotasi ke sejumlah saham defensif serta saham yang didukung katalis domestik yang kuat.
Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi salah satu aset yang cukup menarik perhatian investor ritel setelah masuknya Pacific Universal Investments sebagai pemegang saham pengendali baru melalui transaksi senilai Rp 11,8 triliun sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Langkah akuisisi tersebut dinilai memberikan sentimen positif bagi prospek ekspansi bisnis ritel MAPI di masa depan.
Secara teknikal, MAPI dianggap menarik untuk trading buy dengan target harga jangka pendek pada level Rp 1.605. Selain itu, saham PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga dinilai layak untuk dicermati dengan target harga Rp 720, yang didorong oleh potensi pemulihan konsumsi dalam negeri.
Dari sektor kesehatan, saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) menjadi pilihan saham defensif yang direkomendasikan dengan target Rp 370, mengingat sektor ini biasanya memiliki ketangguhan lebih dalam menghadapi gejolak ekonomi global sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selaras dengan hal tersebut, Herditya turut merekomendasikan saham MAPA dengan rentang target harga pada level Rp 695 hingga Rp 725.
Selanjutnya, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) disarankan untuk dipantau dengan target harga Rp 10.225 sampai Rp 10.825. Terakhir, saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) diprediksi akan bergerak pada rentang harga Rp 520 hingga Rp 555 sebagaimana dilansir dari berita sumber.