Imbal Hasil SRBI Naik, Asei Lirik Peluang Investasi Jangka Pendek

Imbal Hasil SRBI Naik, Asei Lirik Peluang Investasi Jangka Pendek
Ilustrasi PT Asuransi Asei Indonesia (FOTO: asei.co.id)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah proaktif guna memproteksi nilai tukar rupiah dari imbas ketidakpastian geopolitik dengan melakukan penyesuaian pada struktur suku bunga pasar lewat peningkatan imbal hasil atau yield instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

PT Asuransi Asei Indonesia memandang bahwa perkembangan kenaikan yield ini menjadikan instrumen SRBI sebagai salah satu pilihan penempatan investasi jangka pendek yang memikat.

Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, memaparkan bahwa pada dasarnya SRBI mempunyai karakteristik yang selaras dengan kebutuhan industri asuransi.

"Sebab menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko relatif rendah serta likuiditas yang baik," katanya kepada Kontan, Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walau begitu, Dody menjelaskan bahwa keputusan mengenai alokasi investasi Asei tetap dijalankan secara prudent dengan memperhatikan berbagai faktor, seperti profil liabilitas perusahaan, keperluan likuiditas untuk operasional dan klaim, regulasi yang berlaku, situasi pasar keuangan, hingga strategi asset-liability management (ALM) internal perusahaan.

"Jadi, SRBI dapat menjadi bagian dari diversifikasi portofolio investasi, khususnya dalam menjaga fleksibilitas likuiditas di tengah volatilitas pasar," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dody menjabarkan sejumlah keunggulan penempatan investasi di instrumen SRBI, di antaranya adalah imbal hasil yang tergolong kompetitif jika dibandingkan dengan instrumen pasar uang lainnya, terutama saat periode suku bunga sedang tinggi.

Bukan hanya itu, SRBI memiliki keunggulan berupa risiko yang relatif rendah karena dirilis oleh Bank Indonesia, memiliki likuiditas yang mumpuni sehingga menopang pengelolaan arus kas (cash flow) perusahaan, serta sangat pas dijadikan instrumen defensif saat menghadapi ketidakpastian global serta fluktuasi nilai tukar.

"Membantu juga menjaga kualitas portofolio investasi perusahaan dari sisi keamanan aset dan stabilitas hasil investasi," ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk perusahaan asuransi, Dody menjabarkan bahwa aspek keamanan serta likuiditas merupakan hal yang krusial. Pasalnya, investasi tidak sekadar dilakukan untuk mengejar keuntungan semata, tetapi juga guna menjamin kemampuan perusahaan dalam menunaikan kewajibannya kepada para pemegang polis.

Menilik laporan keuangan perusahaan yang termuat di laman resmi, Asei membukukan total investasi senilai Rp 509,90 miliar per Maret 2026. Dalam hal ini, instrumen deposito berjangka masih menjadi yang paling dominan dalam portofolio investasi perusahaan dengan angka mencapai Rp 224,13 miliar per Maret 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index