JAKARTA – Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks sukses membukukan penguatan yang berarti dalam rentang sepekan terakhir, walaupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di bawah tekanan pada transaksi harian.
Pada penutupan bursa hari Jumat (8/5/2026), IHSG bertengger di posisi 6.968,4 atau mengalami penurunan sebesar 2,86% secara harian. Walau begitu, dalam perhitungan mingguan, indeks masih mencetak pertumbuhan tipis sebesar 0,18%.
Di balik penguatan IHSG yang terbatas tersebut, saham di sektor perbankan justru menunjukkan performa yang lebih solid. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tampil sebagai emiten dengan pertumbuhan paling tinggi setelah harga sahamnya melesat 9,03% dalam satu minggu ke angka Rp 3.260.
Kenaikan serupa dialami oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terdongkrak 5,56% sepekan menjadi Rp 6.175. Di sisi lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menguat 5,47% menuju level Rp 4.630. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turut mengukir kenaikan sebesar 3,76% dalam sepekan ke posisi Rp 3.860.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa melajunya saham-saham perbankan saat ini cenderung mencerminkan technical rebound daripada sebuah pembalikan tren yang menyeluruh.
Berdasarkan pandangannya, aksi rebound ini dipicu oleh perpaduan beberapa sentimen positif, mulai dari anjloknya harga minyak yang mengurangi kecemasan akan inflasi serta tekanan makroekonomi, hingga adanya momentum pembagian dividen yang kembali memicu ketertarikan investor pada saham-saham perbankan jumbo.
Ekky memaparkan bahwa kelanjutan tren positif saham perbankan di masa depan bakal sangat bergantung pada dinamika sentimen di pasar. Dilihat dari sisi valuasi, beberapa saham bank dianggap sudah menyentuh level yang cukup terjangkau usai melewati koreksi yang cukup tajam. Situasi ini membuka lebar kesempatan untuk rebound saat sentimen positif hadir di pasar.
Meski demikian, para pemodal tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko di dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan arah pendanaan program unggulan pemerintah seperti MBG dan Kopdes.
“Itu menjadi salah satu faktor tekanan terhadap persepsi investor asing di sektor perbankan,” ujar Ekky, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Terkait pilihan saham, Ekky memberikan keunggulan pada BBNI. Ia melihat secara teknis saham BBNI mulai memperlihatkan pemulihan struktur harga lewat pola higher high yang berpotensi memicu penguatan lebih lanjut.
“Selain itu, valuasinya juga relatif murah dibandingkan bank besar lainnya,” ujar Ekky, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Ekky memproyeksikan target harga saham BBNI dalam periode jangka pendek hingga menengah berada pada rentang Rp 4.300 sampai Rp 4.400. Ia memberikan saran strategi buy on weakness sepanjang momentum kenaikan saham perbankan tetap terjaga.