FINANSIALINSIGHT.COM — Harga emas dunia (XAUUSD) berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support US$ 4.235–4.186 per troy ons atau setara Rp 2,41–2,38 juta per gram. Tekanan datang setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin dan memberi sinyal kenaikan lanjutan masih terbuka tahun ini. Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh minggu menjadi faktor utama yang membebani logam mulia.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai tren pelemahan emas sudah terlihat pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Pada timeframe Daily, harga logam mulia masih bergerak dalam pola penurunan dan berpotensi menguji support terdekat di US$ 4.235 per troy ons.
Selama harga belum menembus resistance US$ 4.318 per troy ons atau Rp 2,46 juta per gram, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi. Level tersebut dinilai krusial karena penembusan resistance bisa mengubah struktur pergerakan emas secara keseluruhan.
Dolar AS dan Yield Treasury Jadi Beban Utama
Kebijakan moneter AS menjadi sentimen dominan yang menekan emas saat ini. The Fed menaikkan suku bunga 25 bps disertai sinyal bahwa peluang kenaikan lanjutan masih terbuka pada tahun ini.
"Kebijakan tersebut menjadi sentimen yang perlu diperhatikan karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap emas," ujar Geraldo dalam keterangan resminya.
Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh minggu turut memperberat posisi emas. Bagi pemegang mata uang selain dolar, harga logam mulia menjadi relatif lebih mahal sehingga permintaan berpotensi menurun.
Imbal hasil Treasury 10 tahun yang berada di sekitar 5% juga meningkatkan opportunity cost memegang emas. Instrumen ini tidak memberikan pembayaran bunga, sehingga yield obligasi yang tinggi membuatnya kurang menarik dibanding aset berbasis dolar.
Faktor Penahan Tekanan Bearish
Di sisi lain, tidak semua faktor fundamental memberikan tekanan negatif. Penurunan harga minyak dunia berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi dan memengaruhi kembali ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah juga masih menjadi perhatian. Ketegangan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar.
"Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, sebagian investor cenderung meningkatkan eksposur pada aset yang dinilai dapat menjadi instrumen perlindungan terhadap risiko pasar. Sentimen tersebut berpotensi memberikan penahan terhadap tekanan bearish XAUUSD," kata Geraldo.
Dua Skenario Pergerakan Harga Emas
Secara keseluruhan, prediksi harga emas menunjukkan XAUUSD masih berpotensi bergerak turun selama belum berhasil menembus resistance US$ 4.318 per troy ons. Dalam skenario bearish, ada dua level support yang perlu dicermati pelaku pasar:
- Support pertama: US$ 4.235 per troy ons atau Rp 2,41 juta per gram
- Support kedua: US$ 4.186 per troy ons atau Rp 2,38 juta per gram, jika tekanan jual semakin kuat
Geraldo mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati pergerakan USD, Treasury yield, harga minyak, serta perkembangan geopolitik. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga emas dalam perdagangan berikutnya.
"Pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan USD, Treasury yield, harga minyak, serta perkembangan geopolitik karena faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga emas dalam perdagangan berikutnya," pungkasnya.