The Fed Naikkan Suku Bunga, Wall Street Ditutup Melemah

Kamis, 17 September 2026 | 06:18:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, membuat saham-saham AS berakhir di zona merah. Keputusan diambil bulat untuk meredam inflasi yang tetap tinggi akibat lonjakan harga minyak mentah selama perang AS-Israel melawan Iran. The Fed memberi sinyal pengetatan lanjutan dalam waktu dekat.

Langkah pengetatan moneter ditempuh untuk mengatasi inflasi yang masih tinggi. Pemicunya adalah lonjakan harga minyak mentah selama perang AS-Israel melawan Iran.

Sinyal Pengetatan Lanjutan

The Fed menyatakan kemungkinan besar akan ada langkah pengetatan tambahan dalam waktu dekat. Tujuannya mempercepat penurunan inflasi yang belum menunjukkan perbaikan berarti.

Ketua The Fed Kevin Warsh menilai perekonomian AS sudah menguat sejak pertemuan terakhir. Namun tren inflasi belum bergerak ke arah yang diharapkan.

Kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha, Ryan Detrick, menyebut kenaikan ini sudah diperkirakan banyak pelaku pasar. "Seperti yang sudah diperkirakan luas, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun," kata Detrick, dikutip Reuters.

Detrick menambahkan The Fed tidak melihat kenaikan berulang dalam beberapa bulan ke depan bakal mengguncang ekonomi secara keseluruhan. "Kabar baiknya adalah (The Fed) tidak berpendapat bahwa kenaikan suku bunga berulang kali dalam beberapa bulan ke depan akan berdampak signifikan terhadap perekonomian secara keseluruhan yang masih kokoh," ujarnya.

Tekanan bagi Pasar Global

Saham-saham AS bergerak naik-turun sepanjang sesi sebelum akhirnya ditutup lebih rendah. Kenaikan suku bunga acuan membuat biaya pinjaman perusahaan dan konsumen berpotensi naik.

Bagi investor di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, kebijakan ini bisa menekan aliran modal masuk. Imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi biasanya membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik dibanding aset pasar berkembang.

Tekanan serupa pernah terjadi pada siklus pengetatan The Fed sebelumnya. Saat itu rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat tertekan sebelum pasar menyesuaikan diri.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Pasar akan menunggu data inflasi AS berikutnya untuk menilai seberapa agresif The Fed menaikkan suku bunga. Pernyataan Warsh soal ekonomi yang menguat memberi ruang bagi bank sentral untuk tetap hawkish.

Harga minyak mentah menjadi variabel kunci. Selama konflik AS-Israel melawan Iran berlanjut, tekanan inflasi dari sisi energi diperkirakan belum mereda.

Bagi pelaku pasar dalam negeri, arah kebijakan Bank Indonesia menjadi penyeimbang. BI biasanya menjaga stabilitas rupiah dan menarik modal asing lewat imbal hasil yang kompetitif.

Kenaikan suku bunga The Fed menandai berakhirnya era uang murah yang dinikmati pasar sejak pandemi. Dampaknya ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia, akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.

Terkini