FINANSIALINSIGHT.COM — Dapen BCA membukukan imbal hasil investasi atau Return on Investment (ROI) sebesar 2,40% per Juli 2026, melonjak dari 1,65% pada Juni 2026. Kenaikan ini ditopang strategi penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi korporasi berperingkat layak investasi. Posisi tersebut berada jauh di atas rata-rata industri dana pensiun yang hanya 0,95% pada periode yang sama.
Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno menyampaikan bahwa pihaknya masih melihat ruang untuk mempertahankan tren positif imbal hasil hingga akhir tahun. Menurutnya, strategi utama yang dijalankan adalah pengoptimalan manajemen aset dan kewajiban dengan prinsip kehati-hatian.
"Peluang untuk menjaga dan meningkatkan imbal hasil investasi agar tetap positif hingga akhir tahun 2026 masih terbuka dengan baik," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/9/2026).
Alokasi Dana Didominasi SBN dan Deposito
Berdasarkan komposisi penempatan dana per Juli 2026, instrumen SBN mendominasi dengan porsi 38,9%. Posisi berikutnya ditempati deposito dan SBI sebesar 21,1%, lalu tanah dan bangunan 15,3%, penyertaan 14,4%, obligasi korporasi 5,6%, serta saham dan reksadana 4,6%.
Budi menjelaskan, pihaknya secara taktis memanfaatkan momentum tingkat imbal hasil pada instrumen pendapatan tetap berkualitas. Langkah ini ditempuh untuk mengunci imbal hasil jangka panjang sekaligus menjaga likuiditas.
"Untuk mengunci imbal hasil jangka panjang, mengoptimalkan penempatan likuiditas pada instrumen pasar uang yang kompetitif dan likuid, serta melakukan penyesuaian portofolio secara terukur pada instrumen yang memiliki fundamental kokoh," jelas Budi.
OJK Catat ROI Industri Dana Pensiun Baru 0,95%
Kinerja Dapen BCA jauh melampaui capaian industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ROI industri dana pensiun pada Juli 2026 sebesar 0,95%, membaik dari Juni 2026 yang hanya 0,02%.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menyebut perkembangan hasil investasi sangat bergantung pada kondisi pasar dan strategi masing-masing pengelola dana.
"Perkembangan hasil investasi tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar dan strategi investasi masing-masing dana pensiun, sehingga masih terdapat ruang untuk peningkatan hingga akhir 2026," ucapnya dalam lembar jawaban RDK OJK Agustus 2026, dikutip pada Senin (14/9/2026).
Instrumen Pendapatan Tetap Jadi Andalan Paruh Kedua 2026
Memasuki paruh kedua 2026, Dapen BCA menilai instrumen pendapatan tetap seperti SBN dan obligasi korporasi berperingkat layak investasi masih menjadi perhatian utama. Instrumen pasar uang yang mudah dicairkan, seperti deposito perbankan nasional, juga tetap diandalkan.
Budi menegaskan, pertimbangan antara peluang imbal hasil dan risiko dilakukan dengan mengukur keseimbangan antara kepastian hasil jangka panjang, perlindungan nilai pokok dana dari risiko kredit penerbit, serta pemenuhan likuiditas harian maupun bulanan.
"Pertimbangan antara peluang imbal hasil dan risiko dilakukan dengan mengukur keseimbangan antara kepastian imbal hasil jangka panjang, perlindungan nilai pokok dana dari risiko kredit penerbit, serta pemenuhan likuiditas harian maupun bulanan guna memastikan kesiapan pembayaran manfaat pensiun peserta," ucapnya.
Saham Hanya Jadi Pelengkap Portofolio
Untuk instrumen berisiko fluktuasi seperti saham, Dapen BCA memilih pendekatan sangat selektif. Penempatan dilakukan secara terukur dengan mengedepankan emiten berfundamental kuat dan berprospek pembagian dividen yang stabil.
Strategi ini tercermin dari porsi saham dan reksadana yang hanya 4,6% dari total portofolio. Sebaliknya, kombinasi SBN, deposito, dan obligasi korporasi mencapai 65,6%, menunjukkan orientasi kuat pada instrumen pendapatan tetap.
Bagi peserta program pensiun, kenaikan ROI ini berdampak langsung pada akumulasi nilai manfaat yang akan diterima saat memasuki masa pensiun. Investasi mengandung risiko.