FINANSIALINSIGHT.COM — Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 digelar di K-Square Mall Batam pada 14-20 September 2026 untuk memperluas akses pasar pelaku UMKM Kepulauan Riau. Bank Indonesia Kepri mencatat volume transaksi QRIS di provinsi itu mencapai 87,62 juta transaksi hingga Juli 2026, tumbuh 108,61% secara tahunan.
Kegiatan yang mengusung tema "Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan" itu mempertemukan pelaku usaha kecil dengan pembeli melalui sejumlah rangkaian acara. Expo, fashion show, talkshow, business matching, workshop, kompetisi, charity run, dan festival kuliner nusantara menjadi bagian dari agenda sepekan tersebut.
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto menilai warisan budaya Melayu bisa dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, tidak sekadar identitas daerah. Menurutnya, potensi itu tersebar di sektor UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, hingga pariwisata.
Transaksi QRIS Kepri Tembus Rp 9,94 Triliun
Selain membuka akses pasar, BI Kepri mendorong digitalisasi pembayaran pelaku usaha melalui QRIS. Secara nominal, transaksi QRIS di Kepri mencapai Rp 9,94 triliun hingga Juli 2026 atau tumbuh 85,95% secara tahunan.
Jumlah merchant QRIS di wilayah itu telah mencapai 483.299 merchant. Sebanyak 95,83% di antaranya merupakan merchant UMKM.
Kemudahan transaksi digital itu juga menyasar wisatawan mancanegara lewat layanan QRIS cross border. BI Kepri mencatat transaksi wisatawan asal Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, dan Tiongkok mencapai Rp 169,95 miliar hingga Juli 2026.
Nilai tersebut meningkat 1.866,41% secara year to date (ytd) dan 720,85% secara tahunan. Volume transaksinya mencapai 461.198 transaksi, naik 1.639,98% secara ytd dan 551,73% secara tahunan.
Ekonomi Kepri Tumbuh 6,99% pada Triwulan II 2026
Penguatan UMKM dan ekonomi kreatif berjalan di tengah kinerja ekonomi Kepri yang masih kuat. Pada triwulan II 2026, ekonomi provinsi itu tumbuh 6,99% secara tahunan.
Pertumbuhan ditopang sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran. Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 24,08% secara tahunan, salah satunya didorong meningkatnya aktivitas investasi pusat data di Batam.
BI Kepri menilai pertumbuhan itu tetap perlu diikuti penguatan sumber pertumbuhan baru agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
"Ke depan, penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu terus diakselerasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor-sektor utama dan memperluas dampak pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat," kata Rony.
Tiga Pilar Pengembangan UMKM dan Inflasi Agustus 2026
BI Kepri mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan. Ketiganya dijalankan bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.
Di sisi harga, Kepri mencatat deflasi 0,17% secara bulanan pada Agustus 2026. Inflasi tahunannya tercatat 3,87%, turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 4,24%.
Secara keseluruhan, ekonomi Kepri pada 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 6,3-7,1%. Melalui GMP 2026, BI Kepri berharap kekayaan budaya Melayu semakin terhubung dengan aktivitas ekonomi, sehingga pelestarian budaya berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Kepulauan Riau.