Penerbitan Obligasi Korporasi Turun 14,54 Persen Hingga Agustus 2026

Jumat, 11 September 2026 | 21:16:44 WIB
Ilustrasi Penerbitan obligasi korporasi (FOTO : NET)

JAKARTA – Penerbitan surat utang korporasi sepanjang tahun 2026 dinilai belum memperlihatkan pemulihan secara konsisten. Hingga penutupan Agustus 2026, total nilai penerbitannya masih berada di bawah pencapaian periode yang sama pada tahun lalu.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), realisasi penerbitan surat utang korporasi hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp 120,18 triliun. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 14,54% secara tahunan (YoY) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 140,64 triliun.

Chief Economist Pefindo Suhindarto menyampaikan bahwa aktivitas penerbitan obligasi korporasi sempat tertahan cukup signifikan di pertengahan tahun. Setelah sempat menyentuh angka Rp 59,35 triliun pada kuartal I 2026, nilainya merosot menjadi Rp 27,99 triliun pada kuartal II 2026.

Pada awal semester II, penerbitan sempat melonjak pada Juli dengan nilai Rp 24,96 triliun. Akan tetapi, tren tersebut berbalik menurun pada Agustus dengan nilai penerbitan sebesar Rp 7,87 triliun.

Suhindarto menjelaskan bahwa perlambatan ini utamanya dipicu oleh lonjakan biaya pendanaan serta tingginya volatilitas di pasar.

"Dalam kondisi seperti ini, perusahaan yang masih memiliki fleksibilitas pendanaan cenderung menunggu timing dan pricing yang lebih baik," ujar Suhindarto sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, Suhindarto menilai bahwa kebutuhan untuk refinancing, modal kerja, dan investasi masih menjadi penopang utama aktivitas penerbitan surat utang. Sikap emiten yang lebih selektif dalam memilih waktu penerbitan menjadi alasan utama penurunan ini, bukan lantaran melemahnya kebutuhan pendanaan secara menyeluruh.

Sebelumnya, Pefindo memperkirakan penerbitan baru surat utang korporasi sepanjang 2026 berada pada rentang Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan nilai tengah sebesar Rp 175,77 triliun.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target tersebut masih masuk akal. Namun, pencapaian akhirnya cenderung mendekati batas bawah hingga nilai tengah dari proyeksi tersebut.

"Untuk mendekati Rp 196 triliun akan lebih sulit karena asumsi awal proyeksi dibuat ketika pasar masih mengantisipasi pelonggaran moneter, sementara perkembangan terakhir justru menunjukkan suku bunga acuan dan yield SBN masih tinggi," terang Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Yusuf, dinamika pasar tersebut mendorong para emiten untuk melangkah lebih waspada dalam menerbitkan surat utang. Pada kondisi ini, perusahaan dengan pemeringkatan kelas menengah cenderung menunda penerbitan atau memilih jangka waktu yang lebih pendek.

Tags

Terkini