JAKARTA – PT Bahana TCW Investment Management tetap memegang pandangan konstruktif untuk pasar obligasi pemerintah serta saham Indonesia sampai akhir 2026. Prospek positif tersebut didorong oleh meredanya sebagian risiko global, stabilnya harga energi, perkiraan kebijakan moneter dunia yang tidak seekstrem dugaan awal, hingga kondisi fiskal dalam negeri yang masih terkontrol.
Ekonom Bahana TCW Emil Muhamad mengungkapkan bahwa penataan ulang pascaguncangan geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi tema utama strategi investasi di kuartal III 2026. Ia memperkirakan kenaikan harga minyak mentah jenis Brent hingga mendekati US$ 90 dolar AS per barel tidak akan berlangsung lama selama jalur distribusi energi di Selat Hormuz aman dari gangguan.
“Dalam skenario dasarnya, bank sentral AS itu hanya berpotensi menaikkan suku bunga sekali lagi menjelang akhir tahun, dan itu pun bila data ekonomi memerlukannya,” ujar Emil sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Emil, lonjakan harga energi sebelumnya sempat memicu bank sentral utama dunia seperti The Fed, European Central Bank (ECB), Bank of England, dan Reserve Bank of Australia untuk mempertahankan arah kebijakan yang ketat. Meski demikian, tekanan inflasi tersebut sifatnya sementara dan berangsur mereda seiring dengan normalisasi harga energi dunia, sehingga Bahana TCW memproyeksikan The Fed tidak akan seagresif perkiraan pasar.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI-rate secara bertahap hingga menyentuh 5,75% pada Juni 2026. Langkah tersebut diambil guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan membendung tekanan inflasi pangan di semester kedua tahun ini.
Ke depan, BI diprediksi tetap berfokus pada stabilitas dengan menaikkan suku bunga secara terbatas setidaknya satu kali lagi pada sisa tahun 2026.
Mengenai fiskal, realisasi defisit anggaran per Juni 2026 berada di level 0,8% dari PDB, angka yang jauh lebih rendah ketimbang kekhawatiran pasar. Pemerintah pun telah merealisasikan pembiayaan lewat penerbitan obligasi sebesar Rp 452,0 triliun secara kumulatif per Juni 2026 atau setara 62,6% dari target tahunan.
Selain itu, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) di periode tersebut sudah mencapai angka Rp 255,5 triliun.
Bahana TCW menilai langkah percepatan pembiayaan pada awal tahun dapat mengurangi tingkat penerbitan surat utang di sisa tahun 2026. Hal ini berimbas pada menurunnya risiko kelebihan pasokan obligasi di pasar, yang pada akhirnya menjadi pendorong positif bagi harga SBN.
Dukungan sentimen juga datang dari S&P Global Ratings yang pada 13 Juli 2026 menegaskan kembali peringkat utang Indonesia di posisi BBB dengan prospek stabil.
Kombinasi antara defisit yang terjaga, disiplin pembiayaan, serta penegasan peringkat kredit tersebut menjadikan Bahana TCW makin optimistis terhadap obligasi pemerintah di kuartal III 2026.
Bukan hanya obligasi, harga saham Indonesia pun dipandang sudah berada pada tingkat yang menarik usai IHSG mengalami koreksi tajam secara year-to-date. Momen ini memberikan peluang bagi para investor penyuka risiko untuk memulai penetrasi pasar secara selektif.
Walau begitu, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu terus diwaspadai menurut Bahana TCW. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang melampaui prediksi berpotensi membuat The Fed bertahan lebih lama pada jalur hawkish.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi juga bisa menekan kembali aset-aset berisiko. Di samping itu, ancaman El Nino terhadap inflasi pangan lokal, terutama beras, masih berpeluang menghambat kenaikan harga obligasi.
Dengan inflasi dalam negeri yang terkendali serta imbal hasil riil yang kompetitif dibanding negara sebaya, Bahana TCW konsisten memelihara sikap positif pada pasar Indonesia. Langkah yang diterapkan adalah penambahan posisi dan durasi secara bertahap, bukan menerapkan overweight penuh.
“Untuk saat ini kami mulai konstruktif. Langkahnya masih menambah posisi dan durasi secara bertahap, belum overweight,” imbuh Emil sebagaimana dilansir dari berita sumber.