Laba Semester I 2026 PGEO Naik 15 Persen Kinerja Keuangan Positif

Laba Semester I 2026 PGEO Naik 15 Persen Kinerja Keuangan Positif
Ilustrasi pertamina geothermal (FOTO: NET)

JAKARTA – Perusahaan pengembang energi terbarukan panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sampai akhir semester I-2026.

Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), PGEO membukukan kenaikan pendapatan sebesar 14,73% year on year (yoy) menjadi US$ 235,03 juta pada semester I-2026.

Sebagian besar pendapatan PGEO pada semester I-2026 bersumber dari penjualan uap dan listrik senilai US$ 225,72 juta. Di samping itu, PGEO turut membukukan pendapatan berupa production allowance kepada pihak ketiga senilai US$ 9,31 juta.

Pada saat yang sama, beban pokok pendapatan serta beban langsung lainnya milik PGEO naik 24,26% yoy menjadi US$ 104,59 juta pada semester I-2026, dari periode sebelumnya yaitu US$ 84,20 juta.

Sampai akhir semester I-2026, PGEO mengumpulkan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 79,62 juta atau bertumbuh 15,46% yoy.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan bahwa pertumbuhan kinerja PGEO pada paruh pertama 2026 disokong oleh dua faktor utama, yakni peningkatan produksi seiring beroperasinya proyek panas bumi secara penuh dan kontrak Power Purchasing Agreement (PPA) bersama PLN berbasis dolar Amerika Serikat (AS) yang memberikan natural hedging untuk perusahaan.

"Pendapatan dalam dolar AS terjaga, sedangkan sebagian biaya operasional dalam rupiah justru relatif lebih murah. Ini keuntungan struktural PGEO yang sering luput dari apresiasi," ungkap dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia melanjutkan bahwa prospek PGEO pada semester II-2026 terbilang konstruktif. Sentimen positif untuk PGEO berasal dari kontrak PPA jangka panjang bersama PT PLN yang memberikan visibilitas arus kas independen dari volatilitas harga minyak atau kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Selain itu, dukungan dari Grup Pertamina turut memberikan akses pendanaan yang lebih terjangkau bagi PGEO. Perusahaan ini juga diuntungkan oleh munculnya permintaan energi panas bumi dari sektor data center.

Sebaliknya, salah satu sentimen negatif yang dapat memengaruhi kinerja PGEO pada sisa tahun ini adalah kenaikan suku bunga BI yang mampu meningkatkan cost of fund di tengah besarnya kebutuhan capital expenditure (capex). Risiko penundaan proses konstruksi proyek pembangkit panas bumi turut perlu diwaspadai oleh PGEO.

Oleh sebab itu, strategi utama yang harus diperkuat oleh PGEO yakni disiplin eksekusi capex mengingat industri panas bumi tergolong sektor yang padat modal serta proses drilling memiliki tingkat risiko kegagalan yang tinggi. PGEO juga harus memaksimalkan momentum menguatnya permintaan energi panas bumi dari operator-operator data center.

"PGEO perlu pertahankan rasio hedging yang optimal antara pendapatan dolar AS dan struktur biaya rupiah," imbuh dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menyebutkan saham PGEO layak dipertimbangkan oleh investor mengingat statusnya sebagai salah satu emiten energi terbarukan paling defensif di Indonesia. Pihaknya masih meninjau target harga untuk saham PGEO.

Sementara itu, Research Analyst MNC Sekuritas Christian Sitorus mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGEO dengan target harga pada tingkat Rp 1.540 per saham seiring perkiraan enterprise value (EV)/EBITDA di tingkat 7,6 kali pada 2026.

"Sikap positif kami didukung oleh pendapatan berulang yang tangguh, faktor kapasitas yang konsisten tinggi, dan visibilitas pertumbuhan jangka panjang yang meningkat yang didukung oleh basis sumber daya PGEO sebesar 3 gigawatt (GW)," pungkas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index