Aksi Rights Issue IRSX Ditunda ke September hingga Oktober 2026

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:33:20 WIB
Ilustrasi bursa efek indonesia (sumber foto : NET)

JAKARTA – PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) menargetkan pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) dapat dilaksanakan pada kisaran September hingga Oktober 2026.

Belum terlaksananya aksi korporasi tersebut hingga saat ini disebabkan oleh belum didapatkannya Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Perseroan memberikan penjelasan bahwa PMHMETD belum dapat dilaksanakan adalah karena belum didapatkannya Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan,” ujar Direktur sekaligus Corporate Secretary Folago Global Nusantara, Charlie, dalam keterangan tertulisnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penjelasan tersebut disampaikan perseroan melalui surat resmi Nomor 115/IRSX-BEI/VII/2026 perihal Jawaban Permintaan Penjelasan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lebih lanjut, Charlie menjelaskan bahwa perseroan akan menggunakan acuan (cut off) Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 sebagai dasar pelaksanaan PMHMETD tersebut.

“Berdasarkan kondisi saat ini yang mana Perseroan akan menggunakan Cut Off Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 sehingga Perseroan menargetkan PMHMETD dapat dilakukan sekitar bulan September - Oktober 2026,” tulis Charlie sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain rencana rights issue, perseroan juga mengagendakan penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 30 Juli 2026.

Agenda RUPSLB tersebut diselenggarakan terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha perseroan.

Langkah aksi korporasi ini menyalakan optimisme di tengah capaian kinerja keuangan emiten teknologi dan solusi digital ini yang berbalik positif pada kuartal pertama tahun 2026.

Berdasarkan laporan keuangan interim konsolidasian per 31 Maret 2026, perseroan mencatatkan lonjakan pendapatan signifikan yang berimbas pada pembalikan posisi dari rugi menjadi laba bersih dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hingga akhir Maret 2026, IRSX berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp170,73 miliar. Angka ini meroket hingga 233,43 persen dibandingkan perolehan pada kuartal I 2025 yang tercatat sebesar Rp51,21 miliar.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto perseroan ikut terkerek naik drastis dari Rp856,97 juta pada kuartal I 2025 menjadi Rp18,61 miliar di kuartal I 2026.

Kinerja operasional yang solid ini membawa IRSX meraup laba neto tahun berjalan sebesar Rp3,29 miliar, berbanding terbalik dari posisi kuartal I 2025 yang masih mencatatkan rugi neto sebesar Rp629,76 juta.

Performa laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun membaik ke zona positif di kuartal I 2026, memulihkan kondisi dari kerugian per saham sebesar Rp0,13 pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan pendapatan perseroan pada periode ini ditopang oleh diversifikasi lini bisnis yang semakin tajam. Produk digital masih menjadi kontributor utama dengan pendapatan mencapai Rp115,11 miliar, tumbuh 130,2 persen dari Rp50,00 miliar di kuartal I 2025.

Sementara itu, lini bisnis baru pemasaran digital memberikan kontribusi signifikan sebesar Rp48,88 miliar, disusul pendapatan komisi sebesar Rp4,54 miliar, serta peranti lunak IRS yang menyumbangkan Rp2,20 miliar.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp369,47 miliar, naik sekitar 2,56 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp360,23 miliar. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan aset tidak lancar, terutama pada pos aset takberwujud neto yang melonjak menjadi Rp31,12 miliar, dengan saldo kas perseroan berada pada level Rp99,49 miliar.

Total liabilitas tercatat sebesar Rp52,59 miliar, mengalami kenaikan dari posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp44,87 miliar, yang utamanya berasal dari utang pemegang saham sebesar Rp10,13 miliar dan kenaikan utang pajak menjadi Rp5,05 miliar per Maret 2026.

Meski demikian, pertumbuhan laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya menjadi Rp30,24 miliar memperkuat basis ekuitas perseroan hingga mencapai Rp316,88 miliar.

Sebelumnya, Folago Global Nusantara menilai ekspansi usaha melalui penambahan kegiatan bisnis baru di sektor jasa desain memiliki prospek yang menjanjikan.

Bahkan, hasil studi kelayakan independen menunjukkan investasi pada lini usaha tersebut berpotensi balik modal dalam waktu sekitar 1 tahun 8 bulan.

Rencana tersebut akan dijalankan melalui anak usaha perseroan, PT Folago Karya Indonesia (FKI), yang akan menambah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 74199 atau Aktivitas Desain Khusus Lainnya.

Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, penilai independen yang melakukan studi kelayakan menyimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha tersebut layak untuk dijalankan dari sisi finansial maupun operasional.

Hasil kajian menunjukkan proyek memiliki Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp18,1 miliar. Selain itu, Profitability Index (PI) tercatat mencapai 9,38 kali, sementara periode pengembalian investasi atau Payback Period diperkirakan hanya sekitar 1 tahun 8 bulan.

“Berdasarkan hasil analisis kelayakan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha baru layak untuk dilaksanakan,” demikian hasil studi kelayakan yang dikutip dalam keterbukaan informasi perseroan, Selasa, 24 Juni 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Perseroan menjelaskan, kegiatan usaha baru tersebut akan berfokus pada layanan desain kreatif yang mencakup pengembangan identitas visual merek, materi promosi, kampanye pemasaran digital, desain kemasan, hingga pembuatan konten kreatif untuk berbagai kebutuhan bisnis.

Langkah ini dilakukan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri kreatif dan pemasaran digital yang terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi digital di Indonesia.

Data yang dikutip dalam studi kelayakan menunjukkan nilai belanja iklan digital nasional meningkat dari sekitar USD2,56 miliar pada 2022 menjadi USD3,64 miliar pada 2025, atau tumbuh rata-rata 12,56 persen per tahun. Pada periode yang sama, total belanja iklan nasional mencapai sekitar USD6,97 miliar.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap layanan branding, pemasaran digital, serta pengembangan konten kreatif untuk menjangkau konsumen.

Menurut perseroan, penambahan kegiatan usaha baru juga diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan dan menciptakan struktur bisnis yang lebih beragam.

Selain membuka peluang pasar baru, bisnis desain dinilai memiliki karakteristik yang relatif ringan dari sisi kebutuhan aset dan investasi fisik dibandingkan sektor usaha lainnya.

FKI juga disebut dapat memanfaatkan sumber daya, jaringan pelanggan, dan ekosistem bisnis yang telah dimiliki Grup Folago sehingga pengembangan usaha dapat dilakukan secara lebih efisien.

Perseroan menilai diversifikasi usaha tersebut berpotensi memperkuat ketahanan bisnis sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan dalam jangka panjang.

Dengan hasil studi kelayakan yang menunjukkan indikator finansial positif dan prospek pertumbuhan industri yang masih terbuka lebar, rencana ekspansi ini menjadi salah satu langkah strategis IRSX untuk memperluas basis bisnis di tengah berkembangnya ekonomi digital nasional.

Terkini