Kinerja ASII Diprediksi Solid dan Ada Buyback Saham Rp8 Triliun

Kinerja ASII Diprediksi Solid dan Ada Buyback Saham Rp8 Triliun
Ilustrasi astra internasional (sumber foto : NET)

JAKARTA – Kinerja PT Astra Internasional Tbk (ASII) diprediksi terus bergerak solid. Apalagi, ada rencana buyback saham senilai Rp8 triliun, memberikan dukungan terhadap harga saham yang saat ini sedang dalam posisi tekanan jual.

Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy terhadap ASII setelah memperkirakan kinerja kuartal II 2026 akan sesuai dengan proyeksi. Persetujuan buyback senilai Rp8 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada 17 Juli 2026, juga dinilai dapat memberikan dukungan terhadap harga saham di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.

Bisnis otomotif diperkirakan tetap menjadi penopang utama laba Astra. Penjualan mobil secara wholesales pada kuartal II meningkat 19 persen dibanding kuartal sebelumnya sehingga total penjualan selama enam bulan pertama mencapai 222 ribu unit atau tumbuh 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut telah mencapai sekitar 54 persen dari target penjualan sepanjang tahun yang diproyeksikan Indo Premier, lebih tinggi dibanding rata-rata historis tiga tahun sebesar 49 persen.

Peningkatan penjualan roda empat menunjukkan permintaan domestik masih terjaga. Kinerja ekspor Daihatsu juga memberikan tambahan kontribusi setelah volume ekspor mencapai sekitar 66 ribu unit atau 53 persen dari target tahunan.

Capaian tersebut berada di atas rata-rata historis sehingga berpotensi mendorong kinerja Astra Daihatsu Motor lebih baik dari perkiraan.

Sementara itu, penjualan sepeda motor relatif stabil. Volume wholesales selama semester pertama mencapai sekitar 3,1 juta unit atau naik tipis 1 persen secara tahunan.

Realisasi tersebut setara dengan 47 persen dari proyeksi tahunan, masih sejalan dengan pola musiman beberapa tahun terakhir. Dengan kombinasi tersebut, Indo Premier memperkirakan laba bersih inti segmen otomotif pada kuartal II tetap berada sesuai estimasi.

Kontribusi positif juga diperkirakan datang dari bisnis alat berat melalui PT United Tractors Tbk (UNTR). Aktivitas kontraktor tambang dan produksi batu bara selama lima bulan pertama tahun ini berada di atas proyeksi analis maupun target manajemen.

Penjualan alat berat juga melampaui estimasi meskipun belum mencapai target internal perusahaan.

Dari sisi harga komoditas, rata-rata harga batu bara selama semester pertama telah mencapai sekitar 98 persen dari asumsi analis. Harga emas juga tetap berada pada level tinggi dengan rata-rata sekitar US$4.700 per troy ounce, meski sedikit di bawah asumsi awal.

Berdasarkan perkembangan tersebut, laba bersih inti United Tractors pada kuartal II diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun atau naik sekitar 30 persen dibanding kuartal sebelumnya. Segmen pembiayaan diproyeksikan tetap stabil seiring membaiknya penjualan kendaraan bermotor.

Di sisi lain, bisnis perkebunan melalui PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diperkirakan membukukan laba bersih inti sekitar Rp539 miliar pada kuartal II atau relatif stabil dibanding kuartal sebelumnya. Hingga semester pertama, laba bersih diperkirakan mencapai Rp1,1 triliun atau sekitar 56 persen dari target setahun penuh.

Secara konsolidasi, proyeksi keuangan Astra memang masih menunjukkan tekanan dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan 2026 diperkirakan mencapai Rp316,8 triliun, turun sekitar 2 persen dibanding 2025.

Laba operasi diproyeksikan sebesar Rp27,9 triliun atau turun 28 persen, sedangkan laba bersih inti diperkirakan mencapai Rp27,7 triliun atau turun sekitar 15 persen. Penurunan tersebut juga tercermin pada estimasi earnings per share (EPS) yang diperkirakan turun 15,3 persen menjadi sekitar Rp692 per saham.

Return on Equity (ROE) diproyeksikan turun menjadi 11,5 persen dari 14,3 persen pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, valuasi saham Astra masih tergolong moderat. Pada proyeksi 2026, saham ASII diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 6,9 kali dan price to book value (PBV) sekitar 0,8 kali.

Perseroan juga diperkirakan memberikan dividend yield sekitar 7,9 persen. Konsensus analis yang mencapai 94 persen menunjukkan mayoritas masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek saham ini.

Berbeda dengan fundamental yang relatif stabil, indikator teknikal masih memperlihatkan tekanan jual yang cukup dominan. Ringkasan indikator menunjukkan rekomendasi Strong Sell, dengan delapan indikator memberikan sinyal jual, dua netral, dan hanya satu indikator beli.

Relative Strength Index (RSI) berada di level 38,86, mencerminkan momentum yang masih lemah meski belum memasuki area jenuh jual. Indikator MACD juga masih berada di wilayah negatif, mengindikasikan tren penurunan belum sepenuhnya berakhir.

Sementara itu, Williams %R dan indikator Highs/Lows sama-sama masih memberikan sinyal jual.

Dari sisi moving average, sembilan indikator masih menunjukkan sinyal jual, sedangkan hanya tiga yang memberikan sinyal beli. Harga saham memang telah bergerak di atas rata-rata bergerak lima hari sehingga memunculkan sinyal beli jangka pendek.

Namun posisi harga masih berada di bawah rata-rata bergerak 20 hari, 50 hari, 100 hari, hingga 200 hari. Kondisi tersebut menunjukkan tren utama saham ASII masih berada dalam fase bearish.

Level pivot klasik menempatkan area 5.010 sebagai titik keseimbangan. Apabila harga mampu bertahan di atas level tersebut, ruang penguatan berikutnya berada pada area resistensi 5.290 hingga 5.480.

Sebaliknya, apabila kembali berada di bawah level 4.820, tekanan jual berpotensi membawa saham menuju area support berikutnya di kisaran 4.540 hingga 4.350.

Secara keseluruhan, Astra International masih memiliki fundamental yang relatif kuat dengan dukungan pemulihan penjualan otomotif, kontribusi bisnis alat berat, pembiayaan, serta program buyback senilai Rp8 triliun. Namun, dalam jangka pendek, pergerakan saham masih dibayangi tekanan teknikal yang menunjukkan tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir.

Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan kuartal II yang akan menjadi katalis utama untuk mengonfirmasi apakah kinerja operasional mampu menjadi pendorong pemulihan harga saham.(*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index