Analisis Saham DEWA Terkoreksi 6,36 Persen dan Peluang Rebound

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:33:20 WIB
Ilustrasi saham (sumber foto : NET)

JAKARTA – Pergerakan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) kembali menarik perhatian setelah turun 6,36 persen menuju level 442 pada penutupan perdagangan 24 Juli 2026. Penurunan ini terjadi usai beberapa hari sebelumnya saham sempat melaju cukup pesat dari kisaran 360-an hingga menyentuh level tertinggi 486.

Pelemahan di akhir pekan tersebut menjadi ujian perdana bagi kekuatan tren menguat yang mulai terbentuk sejak pertengahan Juli.

Secara historis, pergerakan DEWA menampilkan perubahan arah momentum yang sangat signifikan dalam dua minggu terakhir. Saham ini masih berada di level 358 pada 14 Juli, lalu merangkak naik ke 362 pada 15 Juli, 370 pada 16 Juli, serta sempat susut tipis ke 364 pada 17 Juli.

Perubahan tren mulai terlihat pada 20 Juli saat saham DEWA melesat 9,34 persen ke angka 398 dengan nilai transaksi Rp375,98 miliar serta ditopang net foreign buy sebesar Rp51,91 miliar.

Laju positif ini berlanjut pada hari berikutnya. Saham DEWA kembali melonjak 10,55 persen ke level 440 pada 21 Juli dengan nilai transaksi naik mencapai Rp938,82 miliar.

Frekuensi transaksi meningkat tajam hingga 118 ribu kali yang mengindikasikan tingginya partisipasi dari para pelaku pasar.

Kendati harga bergerak stagnan di level 440 pada 22 Juli, aliran dana investor asing masih mencatat beli bersih sekitar Rp15,34 miliar yang menandakan minat beli belum reda.

Penguatan kembali terjadi pada 23 Juli saat DEWA ditutup pada level 472 atau naik 7,27 persen. Hari tersebut menjadi salah satu perdagangan paling ramai dengan nilai transaksi mendekati Rp995 miliar dan volume melampaui 21 juta lot.

Di balik tren penguatan itu, investor asing justru mulai membukukan jual bersih sekitar Rp1,03 miliar. Pergeseran ini menjadi indikasi awal hadirnya aksi distribusi setelah reli terjadi dengan terlampau cepat.

Tekanan aksi jual tersebut kian kentara pada sesi perdagangan 24 Juli. Harganya melorot ke level 442 atau terdepresiasi 6,36 persen.

Nilai transaksi tergolong tinggi sebesar Rp480,31 miliar dengan volume 10,68 juta lot. Investor asing kembali melakukan net sell sebesar Rp49,81 miliar, terdiri dari akumulasi beli Rp78,78 miliar dan akumulasi jual Rp128,59 miliar.

Pelemahan yang dibarengi aksi lepas saham oleh pemodal asing ini memperlihatkan sebagian pelaku pasar mulai mengamankan keuntungan usai lonjakan drastis pada beberapa hari sebelumnya.

Dari kacamata teknikal, gambaran grafik yang ada masih tergolong menarik. Rangkuman indikator memunculkan sinyal Strong Buy pada kelompok moving average.

Seluruh rata-rata pergerakan utama, seperti MA5, MA10, MA20, MA50, hingga MA200, berada di bawah harga penutupan 442. Penampakan ini menandai tren jangka menengah masih condong positif meski diterpa koreksi pada akhir pekan.

Akan tetapi, indikator momentum mulai memperlihatkan sinyal yang lebih berimbang. Nilai RSI berada di posisi 52,61 sehingga belum masuk ke wilayah overbought maupun oversold.

Nilai ADX di kisaran 15,67 menunjukkan tren yang sedang berjalan belum mengantongi daya dorong yang dominan.

Di sisi lain, MACD mulai memancarkan sinyal jual, serupa dengan Stochastic yang bergerak meliuk turun. Situasi ini mengindikasikan laju kenaikan mulai melambat selepas reli kilat dalam rentang singkat.

Bahkan indikator Stochastic RSI berada di posisi 100 alias area overbought. Posisi ini kerap dijumpai pasca penguatan yang melaju terlalu cepat, sehingga membuka kans terjadinya konsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya.

Sementara itu, indikator Williams %R, Ultimate Oscillator, serta Highs/Lows masih memberikan sinyal beli sehingga belum semua indikator berganti menjadi negatif.

Ditinjau dari titik teknikal, pivot point harian berada pada kisaran 356. Level resistance terdekat bertempat di kisaran 438 sampai 442 yang berhasil tersentuh pada perdagangan terakhir sebelum tekanan jual mendominasi kembali.

Resistance selanjutnya bertengger di area 486 yang merupakan puncaknya pada 23 Juli.

Apabila titik tersebut mampu dilewati pada perdagangan mendatang, ruang penguatan menuju level psikologis 500 hingga target 510 kembali terbuka lebar.

Sebaliknya, jika tekanan jual masih berlanjut, kisaran 414 hingga 392 menjadi area penting yang wajib dipantau. Area tersebut juga sejalan dengan zona akumulasi bertahap.

Kisaran itu berpotensi menjadi ajang pembuktian apakah tren naik tetap terjaga atau justru berubah menjadi penurunan yang lebih dalam. Selama harga bertahan di atas zona tersebut, struktur penguatan dari pertengahan Juli belum mengalami perubahan berarti.

Sementara itu, angka 330 ditetapkan sebagai batas pengaman sesuai dengan patokan teknikal yang ada.

Analisis gelombang memperkirakan posisi DEWA saat ini sedang berada di fase koreksi setelah kenaikan tajam sebelum melanjutkan tren utamanya. Pola ini sejalan dengan kondisi riil, di mana lonjakan mendekati 30 persen dalam hitungan hari mulai diwarnai aksi profit taking dan penurunan volume ketimbang sesi sebelumnya.

Menatap perdagangan besok, perhatian pasar diprediksi tertuju pada respons harga di area pembukaan. Jika DEWA mampu bertahan di atas area 438–442 seiring redanya tekanan jual, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka untuk menguji kembali kisaran 460 hingga 472.

Sebaliknya, jika aksi jual kembali mendominasi dan harga meluncur ke bawah area tersebut dengan volume yang membesar, potensi penurunan menuju zona buy on weakness di kisaran 414 hingga 392 menjadi skenario yang perlu diantisipasi.

Secara garis besar, struktur tren DEWA masih menunjukkan arah menguat jika dipijakkan pada posisi harga terhadap seluruh moving average. Namun, pelemahan yang disertai lepas saham oleh pihak asing serta melesunya indikator momentum menandakan saham ini sedang memasuk fase konsolidasi usai melaju kencang.

Berlandaskan kondisi ini, fokus pelaku pasar kini tertuju pada ketahanan DEWA dalam menjaga area support penting guna menentukan apakah tren menguat masih berlanjut atau memerlukan waktu konsolidasi yang lebih panjang.(*)

Terkini