Kemenangan Lelang Spektrum Siapkan Saham TLKM EXCL dan ISAT Mengorbit

Jumat, 24 Juli 2026 | 19:28:10 WIB
Ilustrasi Jaringan XL Axiata (EXCL). (sumber foto : NET)

JAKARTA – Emiten telekomunikasi papan atas Indonesia sukses mengamankan spektrum frekuensi radio 2,6 GHz serta 700 MHz usai menang lelang dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Proyeksi pergerakan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) beserta sejawatnya diperkirakan siap melambung.

Saham TLKM yang sempat merosot ke area undervalued berpotensi melonjak menuju Rp3.900, melompat 47,17% dari penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) di angka Rp2.650. Imbauan untuk mengoleksi saham TLKM disampaikan oleh Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian A. Saputra.

Peluang kenaikan saham TLKM beriringan dengan keberhasilan entitas usahanya, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), mengamankan pita frekuensi 80 MHz pada spektrum 2,6 GHz lewat penawaran tertinggi senilai Rp545,8 miliar. Penguatan kapasitas jaringan trafik tinggi dan percepatan integrasi layanan 5G Telkom bakal terdorong oleh hasil tersebut.

Angka keseluruhan biaya lelang industri sejumlah Rp3,36 triliun tergolong lebih hemat dibanding perkiraan Rp5,5 triliun, sehingga beban biaya spektrum operator seluler menjadi relatif ringan. “Bagi TLKM, hasil lelang ini merupakan sentimen positif. Melalui Telkomsel, perseroan memperoleh tambahan spektrum strategis untuk memperkuat kualitas jaringan dan mempercepat ekspansi layanan 5G dengan biaya lebih rendah dari ekspektasi pasar,” jelasnya di program Berita Tentang Saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dampak kondisi ini akan menekan beban profitabilitas emiten telekomunikasi sekaligus menghapus hambatan yang sempat menaungi industri telko. Penambahan spektrum diyakini Andrian mampu mendorong trafik data, menjaga ketahanan jaringan Telkomsel, serta menjadi tumpuan kenaikan pendapatan layanan digital dan 5G dalam tempo singkat.

Kenaikan tarif layanan seluler juga diprediksi terus berlanjut hingga 12 bulan mendatang seiring membaiknya stabilitas harga industri. Siklus positif tersebut berpeluang mendongkrak average revenue per user (ARPU) sekaligus mempercepat pertumbuhan omzet dan profitabilitas TLKM lewat Telkomsel.

Sektor data center turut menjadi tumpuan pertumbuhan Telkom yang didorong maraknya pemanfaatan cloud, artificial intelligence (AI), serta digitalisasi di pelbagai lini bisnis. Hal tersebut membuka ruang bagi TLKM untuk mengerek porsi pendapatan dari ranah digital di luar telekomunikasi konvensional.

Di luar Telkom, operator seluler PT Indosat Tbk (ISAT) serta PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) turut mengamankan frekuensi 2,6 GHz masing-masing 60 MHz bernilai Rp372 miliar dan 50 MHz senilai Rp231,6 miliar.

Pada perebutan pita frekuensi 700 MHz, EXCL keluar sebagai pemenang blok terbesar 30 MHz dengan total nilai Rp1,06 triliun. Sementara itu, Telkomsel dan ISAT menguasai blok 20 MHz lewat penawaran masing-masing Rp642,5 miliar dan Rp507,48 miliar.

Pita frekuensi 2,6 GHz berfungsi memperbesar kapasitas dan kualitas jaringan di area bertrafik data tinggi. Di sisi lain, pita frekuensi 700 MHz difokuskan memeperluas jangkauan ke kawasan pedesaan, pelosok, hingga area yang belum terjangkau secara optimal.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, menyematkan status overweight bagi saham emiten telekomunikasi dengan ISAT dan EXCL sebagai pilihan utama. Di sisi lain, BRIDS menetapkan pandangan netral untuk saham TLKM.

Mengingat risiko biaya spektrum kini lebih terkendali dan murah, kedua analis memberikan saran tactical overweight (3 bulan) pada saham ISAT dan EXCL. ISAT menjadi pilihan teratas lantaran valuasinya menarik dengan EV/EBITDA FY26F sebesar 3,8 kali, atau 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun, serta berpotensi membagikan dividen spesial.

BRIDS menetapkan target harga saham ISAT sebesar Rp3.700 dengan potensi naik 91,21% dari harga Rp1.935 pada Kamis (23/7/2026), sedangkan target harga EXCL dipatok Rp3.750 dengan potensi naik 47,64% dari Rp2.540.

Kafi dan Erindra menganggap beban besar pasca-merger XL dan Smartfren telah lewat dan sinergi terealisasi lebih cepat pada FY27F. “Kami mempertahankan pandangan netral terhadap TLKM. Sebab, prospek pertumbuhannya relatif lebih lemah dan adanya ketidakpastian mengenai waktu penyelesaian transaksi Infranexia,” tulis BRIDS dalam riset terbaru dikutip, Kamis (23/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini