Wall Street Tumbang, Indeks Nasdaq Anjlok 2,15 Persen Akibat Beban AI

Wall Street Tumbang, Indeks Nasdaq Anjlok 2,15 Persen Akibat Beban AI
Ilustrasi wall street (sumber foto : NET)

JAKARTA – Pasar saham Wall Street merosot tajam akibat respons negatif investor terhadap laporan keuangan beberapa perusahaan teknologi besar yang membengkakkan anggaran kecerdasan buatan. Di saat yang sama, harga minyak bumi yang meroket tajam kian memicu kekhawatiran atas lonjakan inflasi serta mendorong imbal hasil obligasi pemerintah.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 506,93 poin atau 0,97 persen ke posisi 51.711,65, S&P 500 melemah 90,66 poin atau 1,21 persen ke level 7.408,30, dan Nasdaq Composite terperosok 553,21 poin atau 2,15 persen ke angka 25.137,69.

Laporan kinerja keuangan kuartal kedua dari Alphabet dan Tesla yang memicu sentimen negatif menjadi awal gelombang tekanan jual di bursa saham. Kedua raksasa tersebut merupakan perwakilan pertama dari kelompok saham "Magnificent Seven" yang mempublikasikan kinerjanya musim ini.

Kondisi pasar kian diperparah oleh harga minyak Brent yang menembus angka di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sedangkan minyak mentah WTI AS melampaui USD92 per barel.

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga energi yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Konflik bersenjata melibatkan serangan udara militer Amerika Serikat ke Iran, balasan rudal dari Teheran ke markas AS, hingga ancaman hukuman militer dari Presiden AS Donald Trump setelah serangan terhadap tanker Arab Saudi di Laut Merah.

Lonjakan harga bahan bakar ini menimbulkan kecemasan baru terkait tekanan inflasi menjelang rapat penetapan kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan.

Co-Chief Investment Strategist Manulife John Hancock Investments, Matt Miskin, menyebutkan bahwa percepatan lonjakan harga minyak bisa menjadi ancaman serius bagi perekonomian serta pasar keuangan.

Ia menambahkan bahwa solidnya pasar tenaga kerja dan rendahnya angka pengangguran akan mendorong the Fed lebih berfokus menekan inflasi daripada melonggarkan kebijakan moneter untuk memberikan stimulus.

Miskin turut menggarisbawahi berkurangnya antusiasme investor terhadap laporan keuangan, meskipun capaian yang dibukukan sejatinya tergolong kuat. Investor kini dinilai kian sulit menoleransi nilai valuasi saham yang sudah terlampau tinggi.

"Secara agregat angka-angkanya sangat baik, tetapi banyak perusahaan memiliki cerita yang membuat sahamnya tetap turun. Salah satu contohnya adalah kekhawatiran mengenai belanja modal. Sedikit saja ada kelemahan, saham langsung dijual," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari total 11 sektor utama di S&P 500, tercatat hanya empat sektor yang mampu membukukan kenaikan. Sektor industri berhasil memimpin penguatan sebesar 1,77 persen berkat ditopang lompatan saham-saham pertahanan.

Saham Lockheed Martin meroket 10,5 persen menyusul revisi naik target penjualan dan laba 2026. Sementara itu, RTX melonjak 7,3 persen setelah menaikkan proyeksi pendapatan serta keuntungan tahun depan akibat tingginya permintaan perawatan pesawat komersial dan sistem pertahanan militer.

Sebaliknya, saham-saham yang berbasis pada teknologi dan AI justru menjadi pemberat utama pergerakan pasar.

Induk usaha Google, Alphabet, merosot 7 persen setelah mengumumkan pembengkakan pengeluaran investasi disertai arus kas yang melemah. Penurunan ini menempatkan Alphabet sebagai salah satu pemberat utama indeks S&P 500.

Koreksi tajam Alphabet memicu penurunan sektor layanan komunikasi hingga 5,20 persen, menjadikannya sektor dengan performa tersulit pada sesi tersebut.

Sektor consumer discretionary menyusul di posisi terlemah kedua setelah terkoreksi 5,12 persen. Kejatuhan saham Tesla sebesar 14,5 persen menjadi pemicu utama akibat catatan arus kas bebas negatif pada kuartal kedua, yang merupakan kejadian pertama dalam rentang waktu lebih dari dua tahun.

Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang menjadi tolok ukur kecemasan pasar Wall Street, menanjak 2,06 poin ke level 18,7 setelah sempat menyentuh angka 20,3 yang merupakan posisi tertinggi dalam hampir satu bulan.

Kekhawatiran inflasi dari kenaikan harga minyak memicu imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun naik ke level tertinggi sejak awal 2025. Meski demikian, berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar masih memproyeksikan probabilitas sebesar 64 persen bahwa the Fed akan menahan suku bunga pekan depan.

Pada sektor semikonduktor, indeks Philadelphia Semiconductor melemah 0,5 persen di tengah penantian laporan keuangan Intel. Saham Texas Instruments pun turun 3 persen meskipun telah memproyeksikan pendapatan kuartalan yang melampaui estimasi analis.

Di tengah pelemahan pasar, saham Thermo Fisher Scientific menjadi perkecualian setelah melesat 8,7 persen. Produsen alat medis ini berhasil mencatatkan laba kuartal kedua di atas estimasi sekaligus menaikkan target laba tahunannya.

Secara keseluruhan di bursa NYSE, saham yang melemah mendominasi dengan rasio 2,99 banding 1, mencakup 82 rekor tertinggi baru dan 354 rekor terendah baru.

Sementara di bursa Nasdaq, terdapat 1.374 saham menguat dan 3.467 saham melemah, memperlihatkan rasio penurunan banding kenaikan sebesar 2,52 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 17 rekor tertinggi baru dan 15 rekor terendah baru dalam kurun 52 minggu, sedangkan Nasdaq Composite mengukuhkan 41 rekor tertinggi baru dan 184 rekor terendah baru.

Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 16,21 miliar saham, lebih rendah dari rata-rata 20 sesi terakhir sebesar 18,51 miliar saham.

Top gainer di indeks Dow Jones dipimpin oleh Honeywell International Inc (5,70%), Merck & Company Inc (2,36%), dan Amgen Inc (1,48%).

Adapun top loser di Dow Jones mencakup Amazon.com Inc (-4,57%), Salesforce Inc (-3,73%), serta Walt Disney Company (-3,13%).

Untuk indeks S&P 500, pencetak penguatan tertinggi adalah Lockheed Martin Corporation (10,54%), Allegion PLC (10,45%), dan United Rentals Inc (10,11%).

Sedangkan pelemahan terdalam di S&P 500 dialami oleh Tesla Inc (-14,53%), T-Mobile US Inc (-10,75%), dan Molina Healthcare Inc (-9,67%).

Pada bursa Nasdaq, saham berkinerja terbaik diraih oleh Lucas GC Ltd (84,97%), NVE Corporation (54,86%), dan Eshallgo Inc (53,41%).

Sementara saham berkinerja terburuk di Nasdaq ditempati oleh China SXT Pharmaceuticals Inc (-83,53%), Zhongchao Inc (-59,67%), serta Leslies Inc (-44,81%).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index