Bursa Eropa Merosot 1,18 persen Akibat Sinyal Hawkish ECB dan Minyak

Jumat, 24 Juli 2026 | 19:28:10 WIB
Ilustrasi bursa saham (sumber foto : NET)

JAKARTA – Bursa saham Eropa mengalami penurunan pada Kamis akibat kombinasi kinerja keuangan perusahaan yang mengecewakan, respons bernada keras (hawkish) dari Bank Sentral Eropa (ECB), dan peningkatan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Indeks STOXX 600 yang mencakup saham-saham utama di kawasan Eropa ditutup melemah 1,18 persen atau 7,66 poin ke posisi 639,27 setelah mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari dua pekan.

Sepanjang bulan ini, indeks tersebut bergerak terbatas dalam rentang yang sempit karena kekhawatiran inflasi kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Bursa-bursa utama kawasan Eropa turut mengalami penurunan. Indeks DAX di Jerman merosot 1,56 persen atau 392,29 poin menjadi 24.763,12, FTSE 100 di Inggris terkoreksi 0,73 persen atau 77,80 poin ke level 10.639,17, dan CAC di Prancis berkurang 1,64 persen atau 138,80 poin ke posisi 8.299,09.

Meskipun bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Kamis, para pelaku pasar menangkap sinyal dari Presiden ECB Christine Lagarde mengenai potensi kenaikan suku bunga pada September.

Kepala Ekonom Zona Euro Pantheon Macroeconomics, Claus Vistesen, menyampaikan bahwa ECB saat ini mengarah pada sikap yang kian hawkish. Menurutnya, meski bank sentral akan terus mengevaluasi data ekonomi hingga September, arah kebijakan moneter sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dan situasi di Timur Tengah.

Kecemasan pasar makin menebal setelah harga minyak jenis Brent melampaui level psikologis USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Lonjakan harga terjadi seusai kelompok Houthi Yaman mengklaim serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak menjadi pendorong bagi sektor energi Eropa yang melesat 1,54 persen, sekaligus menjadi salah satu sektor yang menguat di tengah pelemahan pasar secara umum.

Sebaliknya, sektor makanan dan minuman menjadi penekan utama setelah indeks sektornya turun 4,1 persen. Penurunan tersebut didorong oleh merosotnya saham Nestle sebesar hampir 8 persen, yang merupakan penurunan harian terbesar sejak 1989.

Nestle sebenarnya menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan organik untuk tahun ini. Namun, keputusan perusahaan untuk menjual sebagian unit bisnis air minum dan minuman premium kepada Platinum Equity mendapatkan respons negatif dari investor.

Sektor teknologi juga berada dalam tekanan berat dengan penurunan indeks sebesar 2,9 persen. Produsen chip STMicroelectronics memimpin pelemahan setelah sahamnya turun 17,7 persen akibat proyeksi pendapatan kuartal ketiga yang berada di bawah perkiraan pasar.

Saham perusahaan peralatan semikonduktor asal Belanda, BE Semiconductor, juga terkikis 7,3 persen setelah mempublikasikan laporan kinerja kuartal kedua.

Di tengah tekanan pada sektor teknologi, produsen material semikonduktor asal Prancis, Soitec, justru melonjak hampir 22 persen setelah merilis pendapatan kuartalan yang melampaui estimasi analis.

Sentimen terhadap saham-saham teknologi saat ini cenderung bervariasi. Para investor mulai menyimak prospek imbal hasil jangka panjang dari investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan raksasa teknologi AS seperti Alphabet, sementara perusahaan yang diuntungkan oleh tren AI menghadapi isu valuasi saham yang tergolong tinggi.

"Investor mulai mempertanyakan dari mana pertumbuhan pendapatan di masa depan akan berasal. Dua belas bulan lalu perhatian pasar tertuju pada perusahaan hyperscaler dan pertanyaan yang sama juga muncul. Kini giliran sektor semikonduktor yang menghadapi tekanan," kata Manajer Portofolio Multi-Aset Allspring Global Investments, Rushabh Amin, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, bahkan perusahaan yang berhasil mencetak laba tergolong baik tetap menghadapi kendala dari penurunan sentimen pasar serta penyesuaian alokasi portofolio oleh investor.

Di luar sektor teknologi, saham raksasa energi TotalEnergies naik 2,5 persen seusai melaporkan laba kuartalan tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Capaian tersebut ditopang oleh kenaikan harga minyak serta tingginya margin bisnis pengilangan.

Maskapai berbiaya hemat easyJet juga menguat 2,7 persen meskipun laba kuartal ketiganya turun sekitar 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, grup industri kehutanan Finlandia Stora Enso tertekan seusai mengumumkan laba operasional kuartalan yang berada di bawah ekspektasi pasar, sehingga sahamnya merosot sekitar 8,5 persen pada perdagangan Kamis.

Terkini