JAKARTA – Pasar saham Indonesia diproyeksikan mulai memasuki babak baru pada semester II-2026 usai menunjukkan technical rebound selama beberapa bulan terakhir. Arah indeks ke depan diprediksi akan lebih banyak didorong oleh faktor makroekonomi global, tingkat valuasi saham yang makin menarik, serta kepastian posisi Indonesia di kategori Emerging Market pada indeks MSCI.
Minat dari pemodal asing dilaporkan mulai kembali tampak pada saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi besar, menurut Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto.
Usai melewati fase awal pemulihan, ia berpandangan bahwa perhatian pasar bakal beralih pada ketahanan fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter dunia, serta daya saing emiten dalam menjaga pertumbuhan kinerja.
“Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung,” ujar Rully dalam siaran pers kepada Marketeers, Kamis (23/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tantangan utama bagi pasar saham di semester kedua tahun ini dinilai Rully masih datang dari kebijakan moneter global. Bank sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026, sehingga era suku bunga tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) diprediksi berlanjut.
“Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar Amerika Serikat (AS) semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas,” jelas Rully sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mencermati perkembangan tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi berada di angka 4,8% untuk tahun 2026 dan naik menjadi 4,9% pada 2027.
Penyesuaian proyeksi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi domestik, tekanan dari ranah eksternal, dan ketatnya kebijakan moneter dunia, sedangkan tingkat inflasi diproyeksikan berada di level 4% tahun ini sebelum bertahap kembali ke kisaran target BI di tahun 2027.
Peluang investasi meski begitu dinilai tetap terbuka lebar, ditopang oleh terjaganya nilai tukar rupiah, hadirnya laporan keuangan emiten kuartal II, serta makin jelasnya arah kebijakan. Rully menambahkan bahwa beberapa saham di bidang perbankan, telekomunikasi, energi, hingga konsumsi tetap memiliki fundamental menarik untuk dipantau oleh para pemodal.
Di sisi lain, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menganggap keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia di Emerging Market memberi angin segar bagi kondisi pasar.
Langkah tersebut sukses menepis kekhawatiran pelaku pasar akan ancaman penurunan kelas (reclassification) yang sempat diduga bisa memicu penarikan dana besar-besaran dari investor asing.
“Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4% pada Juni 2026 dari 1,2% pada akhir 2025 seiring berkurangnya kepemilikan investor asing,” kata Wilbert sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pengamatan Wilbert, aksi pelepasan modal asing sejauh ini masih didominasi oleh dana yang mengekor indeks (passive funds), sementara investor strategis tampak bertahan memegang portofolio saham perbankan berkapitalisasi jumbo.
Penilaian harga saham yang telah berada di tingkat terendah dalam dekade terakhir serta peluang naiknya kembali porsi dalam indeks MSCI dinilainya dapat menjadi pemicu kembalinya arus modal asing ke pasar dalam negeri.
“Kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik pasar modal, serta mendorong pertumbuhan laba emiten akan menjadi penentu utama arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026,” tutup Wilbert sebagaimana dilansir dari berita sumber.