JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan 8 Juli 2026 ditutup menguat +1,89% atau -113,12 poin ke level 5.873. IHSG terkoreksi setelah selama 5 hari beruntun ditutup positif.
Pasar memberikan respons negatif terhadap review indeks global (S&P DJI) pada 7 Juli 2026 yang berpotensi melakukan downgrade klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market ke frontier market. Dari sisi emiten, pasar menanti listing terbaru saham PRDL pada Kamis, 9 Juli 2026.
Harga penawaran ditetapkan Rp120/saham dengan kapitalisasi pasar Rp209 miliar dan dana IPO Rp62,7 miliar, serta PRDL memiliki P/E 12,3x. Animo pemesanan saham PRDL tercatat sebagai yang terbanyak sepanjang sejarah dengan oversubscription 142,9x.
Secara makro, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) edisi Juni 2026 lebih landai di level 117,8 dibandingkan dengan bulan sebelumnya di level 120,9. Penurunan optimisme konsumen ini terjadi seiring dengan kenaikan inflasi akibat penyesuaian harga bahan bakar (BBM) non-subsidi.
Pasar global mencatat Wall Street ditutup bervariasi dengan Indeks Dow Jones -1,09% dan S&P 500 -0,28%. Di sisi lain, Bursa Asia Pasifik rebound setelah sejak awal pekan terkoreksi akibat kekhawatiran atas valuasi saham AI hingga konflik Timur Tengah yang kembali memanas.
Harga minyak Brent berada di level USD 78,7/barel, naik +9% sejak awal pekan. Pada Selasa (7/7), AS kembali membombardir lebih dari 80 target di wilayah Iran, serta menyerang lebih dari 60 kapal kecil milik Garda Revolusi Iran (IRGC).
Departemen Keuangan AS juga mencabut izin khusus (general license) yang sebelumnya mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak mentah asal Iran ke pasar global. IHSG hari ini diprediksi bervariasi dalam rentang 5.800–5.900.
Berikut adalah rekomendasi saham dari Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih:
PTBA (Accum Buy) Secara teknikal, PTBA berpotensi mengalami reversal jangka pendek dengan membentuk pola rounding bottom. Indikator MACD bar histogram telah berada di area positif yang menunjukkan momentum akumulasi masih berlangsung.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk menjajaki pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area operasional pascatambang milik PTBA dengan target pengembangan lebih dari 250 hektare. Saat ini, total kapasitas PLTS yang dimiliki PTBA mencapai 1,2 MWp.
PRDA (Accum Buy) Secara teknikal, PRDA berada di area resistance sehingga investor dapat mempertimbangkan strategi buy on breakout pada kisaran 2.740–2.780. Peningkatan volume transaksi yang signifikan serta MACD bar histogram yang masih menunjukkan momentum akumulasi menjadi sinyal positif bagi pergerakan saham.
PRDL resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026, dengan kepemilikan PRDA sebesar 27,3% setelah IPO. Saham ditawarkan pada harga Rp120 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp209 miliar serta berhasil menghimpun dana IPO sebesar Rp62,7 miliar.
PRDL memiliki valuasi P/E 12,3x, sementara animo pemesanan sahamnya mencatatkan oversubscribe 142,9x, terbanyak sepanjang sejarah.
ESSA (Accum Buy) Secara teknikal, ESSA berada di area support sehingga menarik untuk strategi accumulative buy. Indikator stochastic juga telah memasuki area oversold yang mengindikasikan potensi terjadinya rebound dalam jangka pendek.
ESSA membukukan pendapatan sebesar USD95,2 juta pada kuartal I 2026, meningkat 36,7% secara tahunan (Year on Year/YoY). Laba bersih perusahaan juga melonjak 150% YoY menjadi USD26,7 juta.
Pabrik pengolahan amonia milik ESSA, Banggai Ammonia Plant (BAP), telah menyelesaikan perawatan rutin pada 8 Juni 2026 dan kini kembali beroperasi secara penuh.