Harga Minyak Dunia Turun ke Level Sebelum Konflik Akibat OPEC Plus

Senin, 06 Juli 2026 | 17:11:36 WIB
Ilustrasi: Harga minyak dunia turun ke level sebelum konflik setelah OPEC+ menaikkan target pasokan. (Gambar: NET)

JAKARTA – Kelompok OPEC+ kembali menaikkan target pasokan minyak mentah mulai Agustus 2026. Keputusan tersebut diambil seiring tren penurunan harga minyak bumi setelah jalur ekspor melalui Selat Hormuz berangsur pulih pascaperselisihan Iran.

Melalui rilis resminya pada Minggu (5/7/2026), OPEC+ menyepakati kenaikan kuota pasokan sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus mendatang. Angka tersebut setara dengan laju penambahan yang diterapkan pada Juni dan Juli.

Sejak April hingga Juli, tujuh negara utama OPEC+ termasuk Rusia telah menaikkan jatah produksi mendekati 800.000 barel per hari. Pertumbuhan produksi tersebut belum sepenuhnya terealisasi di sektor riil.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sempat mengganggu arus pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Wilayah tersebut menjadi urat nadi utama ekspor minyak bagi Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Data internal OPEC menunjukkan volume output OPEC+ sempat anjlok ke angka 33,13 juta barel per hari pada Mei. Angka ini turun dari posisi semula 42,77 juta barel per hari pada Februari.

Aspek produksi mulai memperlihatkan pemulihan pada Juni setelah Amerika Serikat menyokong Uni Emirat Arab dan beberapa anggota OPEC+ guna memulihkan volume ekspor minyak. Walakin, besaran pasokannya masih berada di bawah catatan sebelum pecah perang.

Nilai jual minyak mentah global pun telah menyusut kembali ke tingkat sebelum terjadinya bentrokan. Penurunan harga ini dipicu oleh melemahnya aktivitas impor minyak oleh China, melimpahnya pasokan ekspor dari produsen non-Timur Tengah, serta kebijakan pelepasan cadangan minyak darurat oleh Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA).

"Kelompok tujuh negara terus mengurangi pemotongan produksi mereka seperti yang diperkirakan secara luas," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

"Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang akan berhasil melewati Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah China pulih," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kesepakatan antara pihak Washington dan Teheran untuk menyudahi perselisihan turut andil dalam menenangkan kekhawatiran pelaku pasar atas ketersediaan suplai minyak dunia. Pada sesi dagang Jumat, harga minyak mentah jenis Brent bertengger di kisaran 72 dollar AS per barel atau setara Rp 1,17 juta per barel mengacu kurs sekitar Rp 16.300 per dollar AS.

Angka ini merosot tajam dari titik tertingginya yang sempat menembus 120 dollar AS per barel atau setara Rp 1,96 juta per barel. Harga tersebut kini telah berbalik ke posisi sebelum pecah konflik.

OPEC+ kini juga tengah dirundung riak internal. Uni Emirat Arab sudah menyatakan keluar dari aliansi tersebut, sedangkan Irak menuntut porsi kuota pasokan yang lebih besar.

OPEC+ sendiri beranggotakan 21 negara, termasuk Iran. Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir hanya ada tujuh negara yang dominan menggodok kebijakan pasokan bulanan, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.

Ketujuh negara tersebut secara bertahap mengembalikan pemotongan output sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati pada tahun 2023 lalu. Uni Emirat Arab secara resmi mundur dari aliansi OPEC+ pada akhir April karena berniat mendongkrak kapasitas produksinya secara mandiri tanpa terikat batasan kuota kelompok.

Berdasarkan kalkulasi komparatif Reuters, selepas mundurnya Uni Emirat Arab, tujuh anggota utama OPEC+ masih memegang sekitar 379.000 barel per hari dari total pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar global. Jika pada pertemuan lanjutan tanggal 2 Agustus nanti OPEC+ kembali menyetujui penambahan pasokan dengan volume yang relatif setara untuk September, maka semua kebijakan penahanan produksi yang ditandatangani pada 2023 akan selesai seluruhnya.

Terkini