Aksi Jual Asing Tembus Rp88,89 Triliun, Analis Soroti Pemulihan IHSG

Senin, 06 Juli 2026 | 17:11:36 WIB
Ilustrasi: Investor asing masih mencatat aksi jual bersih Rp88,89 triliun secara kumulatif tahun ini di pasar saham Indonesia. (Gambar: NET)

JAKARTA – Aksi jual bersih atau net sell investor asing di pasar saham terus membengkak hingga menyentuh angka Rp 88,89 triliun secara year to date (YTD). Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara teknikal, analis menilai keberlanjutan penguatan indeks sangat bergantung pada kembalinya minat beli investor asing.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat IHSG secara teknikal berhasil rebound dan membentuk pola candlestick three advancing soldiers dari fase wave (b) yang mengindikasikan peluang pemulihan pekan ini. Kendati demikian, indikator Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif dengan volume perdagangan yang cenderung menurun.

Di sisi lain, indikator Relative Strength Index (RSI) mulai berpotensi membentuk pola golden cross yang menjadi sinyal awal penguatan lanjutan. “Walaupun IHSG berhasil rebound, investor asing masih cenderung selektif. Keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada apakah terjadi pembalikan menjadi net buy asing dalam beberapa hari ke depan,” ujar Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Data perdagangan mencatat investor asing masih melakukan jual bersih sebesar Rp 16,58 miliar pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Secara kumulatif sejak awal tahun, nilai net foreign sell telah menyentuh Rp 88,89 triliun seiring dengan pelemahan IHSG sebesar 32,05 persen secara YTD.

IHSG bergerak di zona merah menjelang penutupan sesi satu perdagangan Senin ini setelah sempat menguat mendekati area 5.936. Tekanan jual menyebabkan penguatan tersebut tidak bertahan dan indeks berbalik melemah.

Berdasarkan data BEI, IHSG berada di level 5.861,455 atau turun 14,324 poin setara 0,24 persen per pukul 11.00 WIB. Indeks sempat dibuka di level 5.893,281 dan menyentuh angka tertinggi di 5.935,683 sebelum akhirnya turun ke level terendah 5.859,640.

Nafan memproyeksikan support IHSG berada di level 5.723 dan 5.568, sementara level resistance berada di 5.972 dan 6.127. Di tengah derasnya arus keluar dana asing, bursa saham global justru menutup perdagangan pekan lalu di zona hijau.

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga emas mencerminkan membaiknya risk appetite global yang berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar saham Asia. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga nyaris menyentuh Rp 18.000 per dolar AS pada pembukaan pasar pagi tadi.

Pada sisi valuasi, pasar saham Indonesia dinilai mulai memasuki area yang menarik dengan rasio price to earnings (P/E) IHSG di level 9,35 kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode bottoming pandemi Covid-19 yang berada di level 9,48 kali.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor institusi domestik untuk melakukan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Namun, pasar juga dihadapkan pada persaingan likuiditas instrumen pendapatan tetap karena pemerintah resmi membuka masa penawaran Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030.

ORI030 menawarkan kupon tetap atau fixed rate yang kompetitif dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang bertahan di level 5,75 persen. Produk ini berpotensi menyerap dana investor ritel yang memilih bersikap defensif di tengah volatilitas pasar saham.

Menyikapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham berfundamental kuat serta memprioritaskan emiten dengan valuasi murah. Investor juga diminta fokus pada saham yang menunjukkan pembalikan tren dan tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko.

Terkini