Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Dialog Damai Amerika Serikat-Iran

Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:19:07 WIB
Ilustrasi: Harga minyak Brent menguat tipis ke US$ 71,94 per barel di tengah dialog damai AS-Iran. (Foto: NET)

CALGARY/LONDON – Nilai jual minyak dunia mengalami penguatan minor pada akhir sesi perdagangan Jumat (3/7/2026), dengan akumulasi performa mingguan yang cenderung stagnan. Para pelaku pasar masih memantau secara intensif kelanjutan proses dialog damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diprediksi mampu menormalkan kembali pasokan minyak di pasar global.

Melansir laporan Reuters, nilai minyak jenis Brent terapresiasi 14 sen (0,19 persen) menuju level US$ 71,94 per barel, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Dalam perhitungan mingguan, Brent hanya terkoreksi tipis sekitar 5 sen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pekan lalu.

Di saat yang sama, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik 9 sen (0,13 persen) ke posisi US$ 68,78 per barel. Aktivitas transaksi perdagangan berjalan agak lengang menjelang momentum libur Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli.

Pada hari sebelumnya, Brent dan WTI sempat merosot ke level paling rendah sejak sebelum meletusnya ketegangan antara AS dan Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Analis dari Commerzbank berpendapat bahwa sentimen positif investor meroket seiring besarnya ekspektasi tercapainya kesepakatan antara pihak AS dan Iran.

Langkah ini dinilai bisa memulihkan kembali jalur pelayaran secara total melewati Selat Hormuz, yang dikenal sebagai rute logistik minyak dunia yang sangat krusial. Sependapat dengan hal itu, analis dari Citi mengungkapkan bahwa jalur diplomasi kedua negara tersebut posisinya masih rentan, namun prosesnya tetap bergulir.

"Kami memperkirakan nota kesepahaman (MoU) akan tetap bertahan, bukan karena tingkat kepercayaan meningkat, melainkan karena kedua pihak memiliki sedikit insentif untuk melanggarnya," tulis analis Citi, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sebagian rute pengiriman logistik melewati Selat Hormuz sejatinya telah beroperasi kembali mengacu pada kesepakatan awal antara AS dan Iran.

Kendati demikian, faktor risiko ketidakpastian dinilai masih tinggi usai kedua negara tersebut sempat terlibat aksi saling serang pada akhir pekan kemarin pasca terjadinya gempuran Iran terhadap satu unit kapal kargo. Prospek kelancaran distribusi pasokan minyak ini mendorong negara-negara di kawasan Teluk untuk memacu volume produksi mereka.

Riset survei dari Reuters memperlihatkan bahwa total produksi minyak dari negara-negara anggota OPEC sepanjang Juni mendaki sekitar 3,3 juta barel per hari dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Volume produksi minyak dari Kuwait juga dilaporkan melonjak drastis hingga menyentuh angka 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari yang sebelumnya hanya berada di kisaran 580 ribu barel per hari pada Mei.

Di sudut lain, minimal terdapat lima armada kapal tanker berukuran besar yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak milik Arab Saudi dilaporkan telah sukses mengarungi Selat Hormuz. Malahan, korporasi Saudi Aramco sudah mulai menggeser sebagian skema penjualannya ke sistem harga spot demi mengakselerasi pasokan menuju pasar Asia.

Pendiri dari Commodity Context, Rory Johnston, memberikan pandangan bahwa proses normalisasi suplai dari wilayah Timur Tengah berjalan dengan tempo yang lebih pesat daripada prediksi awal, di tengah kondisi serapan impor dari pasar China yang masih loyo. "Pemulihan pasokan dari Timur Tengah terjadi lebih cepat dari ekspektasi kami, sedangkan permintaan impor China masih tertekan," ujarnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Akselerasi volume pasokan ini juga menggeser struktur pada pasar minyak dari kondisi backwardation menjadi contango, yaitu sebuah situasi ketika nilai kontrak pengiriman masa depan dipatok lebih tinggi ketimbang harga pengiriman saat ini. Pergeseran tren tersebut merefleksikan meredanya kecemasan pasar atas potensi kelangkaan stok dalam kurun waktu dekat.

Terkini