Tantangan Berat IHSG pada Paruh Kedua Akibat Kenaikan Suku Bunga

Jumat, 03 Juli 2026 | 11:05:56 WIB
Ilustrasi: IHSG menghadapi tekanan berat pada paruh kedua 2026 akibat kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA – Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sekitar 35 persen dari puncaknya sepanjang semester I-2026, pasar domestik diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun ini. Meski valuasi saham telah berada di level yang sangat murah, tekanan kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian kebijakan pemerintah dinilai belum sepenuhnya mereda.

Dalam laporan outlook semester II-2026 bertajuk The Best Offense is Defense, Samuel Sekuritas menyatakan bahwa strategi investasi defensif merupakan pilihan paling rasional karena belum terlihat katalis yang kuat untuk mendorong pemulihan pasar saham. Menurut Samuel, tantangan terbesar saat ini bersumber dari perubahan sikap Bank Indonesia (BI) yang telah memasuki siklus kenaikan suku bunga.

Berbeda dengan periode sebelumnya, kenaikan suku bunga saat ini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan. BI diperkirakan lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah, namun di sisi lain berpotensi membatasi ruang pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan. Samuel membandingkan kondisi ini dengan siklus kenaikan suku bunga pada 2018, di mana BI juga menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah serta meredam arus keluar modal asing.

Hasilnya, IHSG cenderung bergerak mendatar selama periode kenaikan suku bunga berlangsung, sementara investor asing tetap melakukan aksi jual meski dalam laju yang lebih lambat. Samuel menilai, akar persoalan bukan terletak pada kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal bahwa BI kini lebih mengutamakan stabilitas dibanding pertumbuhan ekonomi.

Strategi tersebut memang dapat membantu menopang rupiah, tetapi sekaligus mengurangi daya tarik Indonesia sebagai pasar negara berkembang yang selama ini mengandalkan prospek pertumbuhan. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu alasan investor asing terus mengurangi eksposurnya di pasar saham domestik.

Selain tekanan moneter, persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah juga menjadi faktor yang membebani pasar. Menurut mereka, berbagai kebijakan yang diluncurkan dalam beberapa bulan terakhir dinilai meningkatkan policy risk premium, sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di Indonesia.

Faktor yang menjadi sorotan antara lain kekhawatiran terhadap disiplin fiskal, perubahan desain program pemerintah, sentralisasi modal dan ekspor sumber daya alam, pembentukan Danantara, serta berbagai perubahan kebijakan yang dinilai berlangsung cepat sebelum memiliki kepastian implementasi. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor.

Samuel menilai pelemahan rupiah bukan sekadar fenomena jangka pendek, melainkan bersifat struktural karena selisih pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat semakin menyempit. “Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara struktural relatif rendah serta lingkungan suku bunga riil yang rendah, kami meyakini rupiah masih akan menghadapi tekanan depresiasi dalam jangka panjang,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati demikian, satu sisi positif yang terlihat adalah valuasi pasar saham Indonesia yang kini berada di level sangat rendah. Rasio price to earnings (P/E) IHSG berada di kisaran 13,6 kali atau sekitar 27 persen lebih murah dibandingkan rata-rata pasar negara berkembang (MSCI Emerging Markets) serta sekitar 34 persen di bawah rata-rata historis 10 tahun.

Namun, murahnya valuasi tersebut dinilai belum cukup menjadi alasan untuk agresif membeli saham. “Pasar saat ini diperdagangkan pada valuasi setara periode krisis. Meski demikian, kami belum melihat adanya katalis yang jelas untuk menopang harga saham yang terus melemah,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sementara itu, investor asing terus melakukan aksi jual, termasuk pada saham-saham perbankan besar yang selama ini menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia. Terkait isu MSCI, Samuel menilai dampak negatifnya sebagian besar telah tercermin dalam harga saham.

“Isu MSCI tampaknya sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar (priced in). Kami juga melihat probabilitas Indonesia diturunkan ke status Frontier Market relatif rendah,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Fokus investor kini tertuju pada evaluasi MSCI berikutnya pada November mendatang.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Samuel merekomendasikan investor untuk menerapkan strategi yang lebih defensif pada semester II-2026. Porsi saham diturunkan dari 20 persen menjadi 15 persen atau underweight, sementara alokasi obligasi dan emas masing-masing dinaikkan menjadi 40 persen dan 10 persen.

Samuel juga tetap mempertahankan alokasi kas sebesar 30 persen, terutama dalam bentuk deposito dolar AS, sebagai strategi menghadapi tingginya ketidakpastian pasar.

Terkini