JAKARTA – Aksi jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 88,57 triliun sejak awal 2026 atau secara year to date. Kondisi ini menjadi beban utama bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), investor asing kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp 322,69 miliar. Meski indeks sempat menguat dalam dua hari terakhir, derasnya arus modal keluar dinilai masih membatasi ruang kenaikan.
“Meskipun IHSG berhasil menguat selama dua hari terakhir, arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten sehingga berpotensi membatasi kenaikan indeks,” ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Nafan mencatat bahwa secara teknikal IHSG menunjukkan resiliensi setelah membentuk pola wave (b), namun sejumlah indikator menunjukkan momentum penguatan belum sepenuhnya solid.
“Secara teknikal, pergerakan berhasil menunjukkan resiliensinya sejak “wave (b)” terbentuk sebelumnya. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif mengingat sebenarnya “wave (b) alt” masih terlihat, namun volume mulai mengalami kenaikan,” papar Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sejalan dengan arus keluar dana asing, kinerja IHSG sepanjang tahun berjalan masih tertekan dengan penurunan 33,57 persen.
Untuk perdagangan akhir pekan, Nafan memproyeksikan IHSG bergerak dengan support di level 5.568 dan 5.438, serta resistance di 5.848 dan 5.972. Investor ritel disarankan untuk tetap selektif dan fokus pada saham dengan fundamental kuat serta valuasi yang murah.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari makroekonomi domestik, di mana nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,24 persen ke posisi Rp 17.995 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh berlanjutnya aksi jual dan arus keluar modal asing yang sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 86,81 triliun.
Selain itu, inflasi pada Juni 2026 naik menjadi 3,34 persen, melampaui konsensus pasar sebesar 3,2 persen. Hal ini membuat suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 5,75 persen berpotensi dipertahankan di level tinggi.
Sentimen negatif lainnya muncul dari neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang defisit 1,61 miliar dolar AS. “Neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS dan merupakan defisit pertama sejak April 2020, memicu kekhawatiran atas stabilitas fundamental ekonomi jangka pendek,” pungkas Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di sisi lain, pelaku pasar mulai mencermati pengumuman kupon Obligasi Negara Ritel seri ORI030 yang akan ditawarkan pada 6-30 Juli 2026. Instrumen ini dapat menjadi pilihan diversifikasi untuk meredam risiko di tengah tingginya volatilitas pasar saham.
Sementara dari eksternal, perhatian tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat, di mana ekonomi hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja baru. Namun, tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen dan rata-rata upah per jam meningkat tipis menjadi 3,5 persen secara tahunan.