Wika Beton Raih Skor ESG 71 per 100, Masuk Peringkat 13 Persen Teratas

Selasa, 30 Juni 2026 | 13:05:08 WIB
Ilustrasi: WIKA Beton raih skor ESG 71/100, masuk 13 persen teratas industri material konstruksi global. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mengumumkan perolehan skor lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG score sebesar 71/100 dalam penilaian S&P Global Corporate Sustainability Assessment. Pencapaian ini merupakan lompatan signifikan bagi anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tersebut, mengingat periode sebelumnya skor ESG perusahaan hanya berada di angka 46/100.

Hasil ini berhasil membawa WTON masuk ke dalam kelompok Top Quintile atau peringkat 13 persen teratas di antara korporasi global pada sektor industri material konstruksi. Direktur Teknik & Produksi WTON, Verly Widiantoro, menjelaskan saat menerima kunjungan S&P Global pada Rabu (24/6/2026),

"Capaian metrik tersebut secara langsung menempatkan profil WIKA Beton ke dalam radar investor institusional tingkat global, di mana rekam jejak keberlanjutan Perseroan kini telah terpublikasi secara utuh dalam platform Capital IQ Pro, yang diakses secara luas oleh para fund manager dan institusi keuangan dunia," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurut Verly, kunjungan langsung pihak S&P Global bertujuan merespons kondisi pasar konstruksi yang kini semakin mengutamakan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ESG. Dalam agenda diskusi tersebut, perwakilan S&P Global menekankan pentingnya penyelarasan pelaporan keberlanjutan menuju standar International Sustainability Standards Board (ISSB) untuk kawasan Asia Pasifik dengan fokus pada pengukuran emisi.

Bagi Verly, kunjungan tatap muka ini memberikan wawasan baru bagi WTON mengenai praktik global dalam mengukur kerentanan fisik aset serta memitigasi dampak finansial transisi iklim. Verly menambahkan, "Kehadiran S&P Global memvalidasi bahwa standar produksi WTON telah terkalibrasi dengan parameter ketat internasional. Kami menjadikan skor 71 ini bukan sekadar pencapaian seremonial, melainkan landasan strategis untuk melakukan gap assessment, mengukur kerentanan aset, dan memastikan daya saing operasional Perseroan tetap relevan secara global," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Director of Business Development–Sustainable1 S&P Global, Leo Kurniawan, mengungkapkan bahwa penilaian lembaga pemeringkat berfungsi sebagai pemantik transformasi internal korporasi. Leo menyatakan dalam momen yang sama, "Penilaian S&P bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, melalui seluruh proses ini, kami mendorong perusahaan untuk membangun kapasitas internalnya," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pernyataan Leo tersebut bertujuan agar Perseroan memiliki kerangka kerja yang solid dan metodologi ilmiah yang andal untuk pengujian data. Pada akhirnya, kompetensi ini akan menguatkan kemampuan Perseroan dalam menyusun strategi yang sesuai dengan tuntutan bisnis.

Prinsip tersebut sejalan dengan poin dari Head of East Asia, Climate and Sustainability Services, S&P Global, Judy Su, yang menekankan krusialnya metrik berbasis angka riil. Su menegaskan dalam kesempatan yang sama, "Keberlanjutan bukan lagi sekadar narasi, bukan lagi sebatas deskripsi atau semacam analisis kualitatif mengenai apa yang telah kami lakukan. Keberlanjutan harus menjadi sebuah penilaian yang kuantitatif, terukur, dan berdampak, sehingga benar-benar dapat dipahami oleh para investor dan manajemen," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Transparansi metrik dan manajemen risiko iklim berbasis data akan diterapkan sebagai fondasi utama dalam ekspansi bisnis WIKA Beton ke depan. Su menyimpulkan, "Melalui praktik ESG, WTON telah memproyeksikan penciptaan nilai jangka panjang yang menguntungkan seluruh pemegang saham, sekaligus mengukuhkan daya tahan fundamental Perseroan sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini