JAKARTA – Nilai jual minyak mentah merangkak naik pada sesi transaksi awal pekan ini, Senin (29/6/2026). Pada pukul 06.48 WIB, harga minyak varian West Texas Intermediate (WTI) untuk tenggat pengapalan Agustus 2026 di New York Mercantile Exchange berada di posisi US$ 69,85 per barel, menguat 0,90 persen dibandingkan penutupan akhir pekan kemarin.
Apresiasi harga minyak terjadi menyusul adanya aksi gempuran balasan oleh Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Kejadian ini menegaskan kembali betapa rentannya traktat perdamaian temporer sekaligus menghambat jalur distribusi energi di Selat Hormuz.
Pengapalan minyak mentah melintasi selat tersebut sebenarnya sempat meningkat pada pekan lalu menuju angka tertinggi sejak friksi AS-Israel dengan Iran meletus pada Februari. Namun, arus lalu lintas komoditas minyak kembali tersendat pasca gempuran baru terhadap armada kapal di selat tersebut sejak Kamis, termasuk armada tanker minyak yang terafiliasi dengan Qatar.
Situasi ini memicu respons serangan dari AS dan Iran dalam eskalasi paling buruk sejak kedua pihak menyepakati perjanjian damai sementara. "Pasar kemungkinan akan mengevaluasi kembali asumsinya tentang pemulihan pasokan minyak yang cepat dari Teluk Persia," kata analis ANZ dalam sebuah catatan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di sisi lain, terdapat kabar bahwa Iran dan Amerika Serikat bersepakat untuk menyudahi pertikaian terbaru di area Teluk dan melanjutkan kembali negosiasi di Qatar. Informasi tersebut bersumber dari pemberitaan Axios pada hari Minggu, namun Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara langsung dalam waktu cepat.
Korporasi minyak raksasa asal Saudi, Aramco, mulai mengaktifkan kembali pemuatan minyak mentah pada Jumat di terminal Ras Tanura, sebelah barat Selat Hormuz, pasca dibekukan selama kurun waktu hampir empat bulan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya para produsen di Timur Tengah dalam menggenjot produktivitas serta ekspor minyak dan gas.
"Meskipun kesepakatan AS-Iran menandai titik balik bagi pasar minyak, arus fisik dibatasi oleh antrean kapal tanker, infrastruktur yang rusak, dan penghentian produksi," kata analis ANZ, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Mereka memprediksi mungkin dibutuhkan sisa tahun ini sebelum pasokan mendekati tingkat sebelum konflik.
Aktivitas pemuatan di terminal Ras Tanura kepunyaan Aramco tetap berjalan normal, sekalipun sebuah helikopter milik korporasi tersebut terhempas pada hari Minggu di kawasan pesisir timur itu. Insiden tersebut merenggut nyawa 14 warga negara, namun pemicu kecelakaan masih belum diidentifikasi.