Stok Minyak Sawit Melimpah, Harga CPO Diproyeksi Bergerak Melemah

Senin, 29 Juni 2026 | 11:24:58 WIB
Ilustrasi: Stok minyak sawit yang melimpah di Malaysia memicu tekanan pada harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai jual minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diproyeksikan akan terus menghadapi tekanan sepanjang minggu ini. Kemerosotan nilai minyak mentah dunia serta melimpahnya persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia menjadi penyebab utama yang menghambat laju penguatan harga.

Senior Palm Oil Trader Interband Group of Companies, Jim Teh, memaparkan bahwa kontrak berjangka CPO pada Bursa Malaysia Derivatives berpotensi bergerak melemah karena mengekor penyusutan di pasar energi. "Harga minyak mentah telah turun ke kisaran US$73-74 per barel. Karena pergerakan CPO selama ini sejalan dengan pasar energi, kontrak berjangka CPO diperkirakan masih akan melemah pada pekan ini," ujar Teh, Senin (29/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Situasi pasar juga dihantui oleh ketersediaan barang yang melimpah. Saat ini, Malaysia mencatatkan cadangan minyak kelapa sawit sebesar 2,43 juta ton, sehingga potensi kenaikan harga dianggap terbatas.

Jim Teh memprediksi nilai transaksi CPO akan berkisar di rentang 4.250-4.350 ringgit Malaysia per ton sepanjang minggu ini. Kendati demikian, serapan fisik dari negara pembeli utama seperti India, Pakistan, China, Asia Barat, Uni Eropa, dan Amerika Serikat diyakini dapat membendung depresiasi harga agar tidak merosot lebih jauh.

Pernyataan serupa disampaikan oleh proprietary trader Iceberg X Sdn. Bhd., David Ng. Berdasarkan analisisnya, nilai jual CPO akan terus berada di bawah tekanan pascakemunduran harga minyak mentah yang mengikuti perolehan kesepakatan damai di wilayah Asia Barat.

"Harga CPO diperkirakan bergerak di kisaran 4.450 Ringgit Malaysia per ton hingga 4.650 Ringgit Malaysia per ton ," ujar David Ng, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Secara mingguan, kontrak berjangka CPO pada Bursa Malaysia Derivatives tercatat berakhir merosot pada semua periode waktu.

Kontrak Juli 2026 menyusut 90 ringgit Malaysia menjadi 4.504 ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Agustus 2026 longsor 83 ringgit Malaysia menjadi 4.539 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 terpangkas 78 ringgit Malaysia ke angka 4.568 ringgit Malaysia per ton.

Kemunduran tren berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang jatuh 77 ringgit Malaysia menjadi 4.591 ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 tergerus 78 ringgit Malaysia ke posisi 4.611 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 melandai 79 ringgit Malaysia menuju level 4.631 ringgit Malaysia per ton.

Terkini