Valuasi IHSG di Level Krisis, Saatnya Akumulasi Saham Pilihan?

Senin, 29 Juni 2026 | 11:10:33 WIB
Ilustrasi: IHSG mencatat penurunan 32 persen year to date dengan valuasi mendekati level krisis 2008-2009. (Gambar: NET)

JAKARTA – Tekanan berkepanjangan yang membayangi pasar saham Indonesia dinilai justru mulai membuka peluang untuk berinvestasi. UOB Kay Hian melihat valuasi saham di Indonesia saat ini berada pada level krisis, bahkan mendekati periode krisis keuangan global 2008-2009.

Kondisi tersebut dianggap menciptakan peluang risk-reward yang cukup menarik bagi para investor. Berdasarkan riset analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus dan tim per 26 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini.

IHSG tercatat turun 32 persen secara year to date dan diperdagangkan pada rasio price to earnings (PE) hanya 10 kali untuk estimasi 2026 serta 8,6 kali untuk 2027. Level valuasi tersebut adalah yang terendah sejak pandemi Covid-19 dan tidak jauh dari level krisis keuangan global 2008-2009.

"Risiko-risiko yang membayangi pasar dinilai sudah banyak tercermin (priced in) dalam harga saham," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Meskipun IHSG sempat pulih dari titik terendah Juni, UOB Kay Hian menilai kenaikan tersebut masih lebih banyak didorong oleh sentimen daripada perbaikan fundamental.

Penguatan pasar didorong oleh optimisme reformasi kebijakan, meredanya kekhawatiran regulasi, serta penurunan risiko geopolitik. Namun, penguatan berkelanjutan tetap membutuhkan bukti konsistensi pelaksanaan kebijakan dan stabilitas ekonomi makro.

Sejumlah risiko tetap menjadi perhatian investor, seperti tekanan fiskal, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap rasio pembayaran utang pemerintah. Selain itu, status Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets Index juga menambah ketidakpastian pasar.

Bobot Indonesia dalam indeks tersebut telah turun menjadi sekitar 0,5 persen dari puncaknya yang hampir mencapai 3 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Jumlah emiten Indonesia dalam indeks MSCI juga menyusut menjadi 11 emiten dari sebelumnya lebih dari 20 emiten.

Sektor perbankan menjadi yang paling mencerminkan tekanan pasar dengan valuasi yang mendekati level krisis 2008 untuk BBCA dan BBRI. Di sisi lain, saham bank besar tersebut menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, berkisar 6 persen hingga 10 persen.

"Re-rating sektor perbankan secara signifikan membutuhkan kembalinya likuiditas ke ekonomi riil, didukung oleh tekanan fiskal yang lebih rendah dan kondisi pendanaan yang lebih akomodatif," sebagaimana dilansir dari sumber berita. UOB Kay Hian menetapkan target IHSG akhir 2026 di level 7.500 dengan asumsi valuasi 12 kali PE 2026.

Strategi yang disarankan adalah akumulasi selektif melalui portofolio seimbang di sektor perbankan, komoditas, dan saham defensif. Saham pilihan UOB Kay Hian meliputi AMMN, ASII, BBCA, BMRI, BULL, BRMS, CMRY, DEWA, JPFA, MDKA, dan TLKM.

Terkini