Saham Sektor AI Merosot, Indeks Utama Wall Street Ditutup Melemah

Senin, 29 Juni 2026 | 10:43:54 WIB
Ilustrasi: Saham produsen chip AI anjlok, memicu pelemahan indeks utama Wall Street. (Gambar: NET)

JAKARTA – Bursa saham Wall Street mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (26/6) yang dipicu oleh penurunan tajam saham-saham produsen chip terkait kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, saham Moderna dan sejumlah emiten sektor kesehatan justru menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, indeks S&P 500 turun 0,05 persen menjadi 7.353,95. Sementara itu, indeks Nasdaq melemah 0,24 persen menjadi 25.297,62 dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,09 persen menjadi 51.876,11.

Indeks semikonduktor PHLX (SOX) anjlok 5,3 persen, yang mencerminkan tingginya volatilitas saham produsen chip AI sebagai penggerak utama Wall Street selama ini. Meskipun optimisme terhadap AI masih ada, beberapa investor mulai khawatir bahwa belanja besar-besaran untuk pusat data membutuhkan waktu lama untuk memberikan keuntungan.

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa koreksi besar sedang terjadi di sektor teknologi. Namun yang jelas, pertanyaan mengenai profitabilitas dan besarnya belanja modal (capex) belum akan hilang," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

David Stubbs selaku Chief Investment Strategist AlphaCore Wealth Advisory juga memperingatkan adanya tekanan pada Wall Street jika perusahaan AS gagal memenuhi ekspektasi laba yang tinggi. Sementara itu, saham Apple berhasil menguat 3,1 persen pasca kenaikan harga produk iPad dan MacBook.

Saham Moderna juga melonjak hampir 13 persen ke level tertinggi sejak tahun 2024 setelah memamerkan portofolio produknya. Sebaliknya, delapan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup melemah, dengan sektor industri turun 3,41 persen dan sektor material turun 2,45 persen.

Inflasi AS yang kembali naik di atas 4 persen pada Mei akibat perang Iran membuat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka. Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai kenaikan harga produk Apple menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian serius.

"Kami melihat dinamika serupa saat pandemi ketika gangguan rantai pasok membatasi akses terhadap semikonduktor. Kini kami menyaksikan guncangan pasokan yang serupa, tetapi kali ini dipicu oleh chip memori, yang kembali menciptakan tekanan inflasi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Secara mingguan, S&P 500 turun 2,05 persen dan Nasdaq merosot 4,7 persen. Indeks semikonduktor kehilangan 7,9 persen dalam sepekan, menjadi penurunan terburuk sejak awal April.

Di pasar saham, jumlah saham yang menguat pada indeks S&P 500 tercatat lebih banyak dengan rasio 1,8 banding 1. Sebanyak 35 saham menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara volume perdagangan mencapai 30,1 miliar saham.

Terkini