Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif dan Berpotensi Melemah Hari Ini

Senin, 18 Mei 2026 | 11:40:14 WIB
Ilustrasi Kurs Tukar Rupiah Ke Dolar Terus Menurun (Foto: NET)

JAKARTA — Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS pada hari ini, Senin, 18 Mei 2026, diperkirakan bakal bergulir secara fluktuatif, namun memiliki potensi untuk ditutup melemah pada rentang Rp17.470 hingga Rp17.530 per dolar AS.

Merujuk pada data TradingView, nilai tukar mata uang Garuda sempat bergerak menguat sebanyak 54 angka atau sebesar 0,31% menuju posisi Rp17.474 per dolar AS pada hari Rabu (13/5/2026). Di saat yang bersamaan, posisi indeks dolar AS malah merangkak naik 0,20% ke level 98,49.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa menyusutnya cadangan devisa (cadev) serta perilisan SRBI oleh pihak otoritas moneter merupakan dampak yang logis guna meredam kejatuhan nilai tukar rupiah, kendati mendatangkan rentetan risiko makroekonomi untuk waktu ke depan.

Yusuf menjelaskan bahwa di dalam penerapan sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating), penurunan cadangan devisa di kala tekanan nilai tukar sedang melonjak ialah sebuah gejala yang wajar terjadi.

"Pelemahan cadangan devisa saat tekanan kurs meningkat justru merupakan konsekuensi normal dari fungsi bank sentral sebagai stabilizer pasar. Cadangan devisa memang disiapkan untuk digunakan ketika volatilitas meningkat, bukan sekadar disimpan pasif," ujarnya, Minggu (17/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelum momentum tersebut, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjabarkan bahwa penguatan rupiah sebelum periode libur panjang bergulir terjadi di tengah situasi sentimen pasar global yang masih rentan.

Menurut pandangannya, pernyataan dari Presiden AS Donald Trump mengenai kondisi kritis diplomasi bersama Iran telah melenyapkan ekspektasi akan adanya gencatan senjata sekaligus menyulut kecemasan terhadap inflasi energi akibat terganggunya rute Selat Hormuz.

“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya dalam siaran pers sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Melihat dari faktor internal, meskipun aktivitas pasar sedang berada dalam masa cuti bersama pada hari Kamis dan Jumat, Bank Indonesia (BI) dipastikan bakal terus menjaga kondisi pasar demi mengupayakan terciptanya stabilitas. Pihak BI pun secara konsisten melangsungkan intervensi di pasar offshore secara berkelanjutan mulai dari pasar New York, Asia, hingga Eropa.

"BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak pembukaan tanggal 18 Mei mendatang melalui pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder," pungkas Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga ikut mencermati situasi posisi utang pemerintah yang telah menembus angka Rp9.920,42 triliun hingga periode Maret 2026. Walaupun besaran tersebut sudah mendekati angka nominal Rp10.000 triliun, persentase rasio utang terhadap PDB tercatat masih bertengger di level 40,75%, yang berarti posisinya masih terhitung aman lantaran berada di bawah batas paling tinggi yakni 60% seturut Undang-Undang Keuangan Negara.

Terkini