Lo Kheng Hong Borong 23 Juta Saham DILD Saat Harga Melemah Tahun 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54:52 WIB
Ilustrasi PT Intiland Development Tbk (DILD) (Foto: topbusiness.id)

JAKARTA – Kondisi pasar modal di Indonesia tengah berada di bawah tekanan pada periode semester pertama tahun 2026.

Walaupun demikian, investor ternama tanah air, Lo Kheng Hong, terpantau masih sangat aktif melakukan penempatan modal, yang mana salah satu sasarannya adalah saham di industri properti.

Lo Kheng Hong secara konsisten menambah porsi kepemilikannya pada PT Intiland Development Tbk (DILD). Sosok yang sering dijuluki sebagai Warren Buffett Indonesia ini merupakan salah satu pemegang saham signifikan di DILD dengan proporsi kepemilikan di atas 5 persen.

Berdasarkan informasi dari keterbukaan data, Lo Kheng Hong kembali melakukan pembelian sebanyak 1,7 juta saham DILD pada tanggal 5 Mei 2026.

Kegiatan transaksi pembelian tersebut diproses melalui beragam perusahaan sekuritas, di antaranya BCA Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Sinarmas Sekuritas, Pluang Maju Sekuritas, Korean Investment and Sekuritas Indonesia, Ekokapital Sekuritas, Sucor Sekuritas, Panin Sekuritas, MNC Sekuritas, serta BRI Danareksa Sekuritas.

Setelah aksi korporasi tersebut tuntas, jumlah saham DILD yang dikuasai Lo Kheng Hong naik menjadi 718,5 juta lembar saham atau setara dengan 6,93 persen.

Angka ini memperlihatkan pertumbuhan yang cepat jika disandingkan dengan posisi kepemilikan per 31 Januari 2026 yang berjumlah 695.069.100 lembar saham atau 6,70 persen dari total saham beredar.

Langkah penambahan kepemilikan ini dilakukan oleh Lo Kheng Hong ketika harga saham DILD sedang melemah. Pada sesi perdagangan Senin, 11 Mei 2026, harga saham DILD bertengger di level Rp 126 atau tidak mengalami perubahan secara harian.

Akan tetapi, sejak dimulainya tahun 2026, harga saham emiten tersebut telah menyusut sebanyak 15 poin atau turun sebesar 10,64 persen.

Proses pengumpulan saham oleh Lo Kheng Hong tersebut dilaksanakan secara bertahap. Sebelumnya pada Februari 2026, ia menambah koleksi saham DILD sebanyak 969.000 lembar.

Selanjutnya pada Maret 2026, ia kembali membeli saham DILD dalam jumlah besar yakni 8.100.000 lembar. Pada April 2026, pembelian dilakukan dalam volume yang lebih masif, yaitu sekitar 12 juta saham.

Berkat akumulasi tersebut, total saham DILD milik Lo Kheng Hong per 31 April 2026 tercatat mencapai 716.806.700 saham.

Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, Lo Kheng Hong telah memborong sekitar 23 juta saham DILD.

Saham DILD sendiri sempat mencapai titik tertingginya di level Rp 163 pada 9 Januari 2026, sebelum akhirnya terkoreksi ke level terendah pada angka Rp 122 pada 7 April 2026.

Saat ini, nilai kapitalisasi pasar DILD berada pada kisaran Rp 1,31 triliun dengan rasio price to earnings (PE) sebesar 20,32 kali. Dalam rentang waktu 52 minggu terakhir, pergerakan saham DILD berada di kisaran Rp 118 sampai Rp 173 per saham.

Dilihat dari aspek fundamental, PT Intiland Development Tbk melaporkan adanya penurunan laba pada kuartal pertama 2026.

Hingga 31 Maret 2026, DILD mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,45 miliar, atau merosot sebanyak 76,79 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang bernilai Rp 10,56 miliar. Laba per saham dasar juga turut berkurang menjadi Rp 0,24 dari posisi sebelumnya yakni Rp 1,02.

Pendapatan usaha dilaporkan senilai Rp 619,78 miliar, atau turun 3,27 persen dari kuartal I-2025 yang mencapai Rp 640,76 miliar.

Meski demikian, laba usaha justru menunjukkan peningkatan menjadi Rp 144,49 miliar dari angka sebelumnya Rp 138,14 miliar.

Penyusutan laba bersih ini utamanya disebabkan oleh tekanan pada beban bunga, komponen pendanaan liabilitas kontrak, serta tekanan pada pemasukan perusahaan.

Sampai akhir Maret 2026, jumlah ekuitas DILD tercatat sebesar Rp 6,76 triliun, sedikit berkurang jika dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 6,78 triliun.

Di sisi lain, total liabilitas menyusut menjadi Rp 6,16 triliun dari nilai sebelumnya Rp 6,33 triliun. Total aset DILD pun ikut terkoreksi menjadi Rp 12,93 triliun dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 13,17 triliun.

Terkini