Harga Minyak Mentah Naik 2 Persen Usai Trump Tolak Proposal Damai Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 11:52:17 WIB
Ilustrasi Minyak Mentah (Foto: hidea.id)

WASHINGTON - Harga minyak mengalami lonjakan setelah Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan peringatan bahwa perselisihan dengan pihak Iran masih belum mencapai titik akhir.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya tensi ketegangan di kawasan Timur Tengah serta kian mengancam kestabilan suplai energi global. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan penolakan terhadap tawaran balasan dari Iran untuk menghentikan peperangan dengan pihak AS dan Israel.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya. Sama sekali tidak dapat diterima!” ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (12/5/2026).

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman bulan Juni terpantau merangkak naik lebih dari 2 persen menuju angka 97,88 dollar AS per barrel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi acuan internasional untuk pengiriman bulan Juli turut mengalami kenaikan lebih dari 2 persen ke posisi 103,93 dollar AS per barrel.

Sebagai informasi tambahan, harga minyak jenis WTI dan Brent tercatat sudah naik kurang lebih 40 persen semenjak pecahnya konflik perdana antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.

Netanyahu memaparkan bahwa masih ada material nuklir serta uranium yang diperkaya yang wajib dikeluarkan dari teritori Iran.

"Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ucap dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analisis dari Citi dalam laporan minyak terbarunya menyebutkan bahwa harga memiliki potensi untuk meroket lebih tinggi jika Iran dan AS gagal mencapai titik temu.

Pada saat ini, pasar minyak mentah sejatinya terlindungi oleh adanya cadangan strategis yang dilepas, persediaan yang masih tinggi, pelemahan permintaan di negara-negara berkembang, serta sinyal-sinyal deeskalasi yang sesekali muncul di Timur Tengah.

Akan tetapi, pihak Citi berpandangan bahwa risiko terhadap harga minyak tetap berat ke arah atas lantaran Iran memegang kendali penuh atas ketentuan dan waktu dari setiap potensi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur energi vital.

“Kami berasumsi bahwa rezim tersebut akan membuat kesepakatan yang membuka kembali Selat sekitar akhir Mei, tetapi kami terus melihat risiko yang cenderung mengarah pada penundaan jangka waktu ini dan atau pembukaan kembali sebagian, yang berarti gangguan akan berlangsung lebih lama,” ungkap analisis tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Felipe Elink Schuurman, selaku CEO dan salah satu pendiri Sparta Commodities, memberikan pernyataan bahwa pandemi virus corona merupakan analogi yang relevan untuk menggambarkan perkembangan pasar minyak saat ini.

“Pada tahun 2020, rata-rata, kami kehilangan 9 juta barel per hari permintaan dibandingkan dengan 2019, yang hampir setara dengan apa yang kami hilangkan sekarang dalam hal pasokan. Jadi, pasar harus menyesuaikan diri, dan kami harus mencapai tingkat penurunan permintaan tersebut,” kata Schuurman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini, kondisi pasar belum dapat memastikan dari mana penurunan permintaan tersebut akan muncul secara pasti. Hal ini baru akan terlihat nyata ketika negara-negara kaya mulai menanggung bebannya.

"Mungkin Anda tidak akan melihat harga minyak mentah mencapai 200 dollar AS per barrel, tetapi Anda akan melihat harga tersebut secara teratur pada produk-produk yang dikonsumsi masyarakat,” lanjut dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Pada akhirnya, Anda akan berada dalam skenario di mana negara-negara miskin akan mengalami krisis kemanusiaan, Eropa akan mengalami krisis ekonomi, dan AS akan mengalami krisis politik,” tutup dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini