Harga Minyak Dunia Melonjak Nyaris 3 Persen Akibat Ketegangan AS-Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 11:52:16 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Global (Gambar: cepr.org)

HOUSTON – Harga minyak dunia berakhir menguat mendekati 3 persen pada sesi perdagangan Senin (11/5/2026).

Kondisi ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa upaya gencatan senjata dengan Iran berada dalam status ‘on life support’, yang memicu kembali kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan secara global.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, harga minyak mentah Brent ditutup mengalami kenaikan sebesar US$ 2,92 (2,88 persen) menuju level US$ 104,21 per barel.

Di saat yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sebesar US$ 2,65 (2,78 persen) ke posisi US$ 98,07 per barel.

Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat menyentuh angka US$ 105,99 dan WTI sempat berada di level US$ 100,37 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi setelah sebelumnya kedua jenis acuan minyak tersebut sempat mencatat penurunan sekitar 6 persen pada pekan lalu.

Pelemahan pekan lalu tersebut didorong oleh harapan meredanya konflik selama 10 pekan antara pihak AS dan Iran yang sempat memberikan peluang bagi normalisasi jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.

Namun, sentimen pasar berbalik arah setelah Trump memberikan penolakan terhadap respons terbaru dari Iran atas proposal perdamaian yang diajukan AS dan menyebut tanggapan tersebut ‘tidak dapat diterima’.

Situasi ini kembali memfokuskan perhatian pada risiko penutupan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.

“Narasi pasar berubah cepat dari de-eskalasi menjadi eskalasi dalam beberapa hari, dan pasar minyak merespons meski secara terbatas,” ujar analis energi Rabobank Florence Schmit sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada sisi yang lain, Trump memiliki jadwal untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada pekan ini, di mana isu mengenai Iran diperkirakan akan menjadi salah satu bahasan utama dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, pihak Saudi Aramco melaporkan bahwa terdapat sekitar 1 miliar barel minyak yang hilang dari pasar global dalam kurun waktu dua bulan terakhir sebagai dampak dari gangguan konflik.

Oleh karena itu, pemulihan pasokan diprediksi akan memakan waktu meskipun nantinya jalur pelayaran telah kembali normal.

Berdasarkan data industri, OPEC+ juga telah memangkas produksinya hingga ke level terendah dalam lebih dari dua dekade pada bulan April. Produksi turun sebesar 830.000 barel per hari menjadi 20,04 juta barel per hari akibat terhambatnya kegiatan ekspor karena konflik.

Selain itu, beberapa kapal tanker dikabarkan melintasi Selat Hormuz dengan mematikan transponder, yang menambah ketidakpastian pada jalur distribusi energi di tingkat global.

Meski demikian, analis dari JPMorgan memprediksi bahwa harga minyak masih akan bertahan pada kisaran US$ 100 per barel di sepanjang tahun ini, dengan estimasi rata-rata sebesar US$ 97 per barel pada tahun 2026 seiring belum stabilnya kondisi pasokan dunia.

Terkini