Saham Lapis Dua dan Tiga Tertekan Tajam Selama Perdagangan Mei 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 14:09:28 WIB
Ilustrasi Analisa Pergerakan Harga Saham (FOTO: heygotrade.com)

JAKARTA – Sejumlah saham kategori lapis dua serta tiga terpantau mengalami tekanan yang cukup tajam selama masa perdagangan sepekan pada rentang 4–8 Mei 2026.

Saham EURO tercatat sebagai emiten yang mengalami koreksi paling dalam usai anjlok lebih dari 27 persen dalam masa lima hari perdagangan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Merujuk pada data yang dikumpulkan oleh Kabarbursa.com sampai penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, harga saham EURO berakhir di level 2.480 atau mencatatkan penurunan sebesar 27,27 persen dalam kurun sepekan. Tekanan jual pun tampak pada perdagangan harian terakhir di mana saham tersebut terkoreksi 9,82 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sekalipun mengalami koreksi dalam rentang jangka pendek, saham EURO pada dasarnya tetap membukukan kenaikan yang signifikan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Dalam kurun tiga bulan, saham ini sudah melonjak sebesar 290,55 persen, meningkat 679,87 persen dalam periode enam bulan, serta melesat hingga 1.350,29 persen dalam satu tahun belakangan.

Kapitalisasi pasar EURO berada di angka Rp6,32 triliun, sementara secara year to date (ytd), saham ini masih terpantau menguat 853,85 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selanjutnya, saham HBAT menempati urutan kedua dalam daftar penurunan mingguan.

Saham tersebut mengalami penyusutan 26,48 persen dalam sepekan ke posisi 386 setelah melemah 9,81 persen dalam satu hari perdagangan.

Walau mengalami koreksi mingguan, HBAT tetap mencatat kenaikan 21,38 persen dalam satu bulan dan menguat 757,78 persen dalam setahun, dengan kapitalisasi pasar senilai Rp401,73 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PBSA pun masuk ke dalam jajaran saham paling tertekan pekan ini usai merosot 26,09 persen menuju level 850.

Dalam satu hari perdagangan, saham ini terdepresiasi sebanyak 10,99 persen. Tekanan pada PBSA sebenarnya mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir, dengan penurunan 27,04 persen dalam satu bulan dan koreksi 35,36 persen dalam tiga bulan.

Namun, secara tahunan saham tersebut masih menguat 133,52 persen dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp2,55 triliun sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saham ELPI turut merasakan tekanan besar setelah ambles sebesar 24,35 persen dalam sepekan ke level 1.445. Pada sesi perdagangan terakhir, saham ini turun 15 persen dalam sehari.

Kendati begitu, ELPI masih membukukan pertumbuhan sebesar 109,42 persen dalam enam bulan dan melonjak 312,86 persen dalam setahun dengan kapitalisasi pasar Rp10,71 triliun sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BTEK menjadi emiten berikutnya dalam daftar koreksi terdalam dengan penurunan 21,43 persen dalam sepekan ke level 110.

Dalam satu bulan, saham BTEK melemah 26,67 persen dan terkoreksi 42,11 persen dalam tiga bulan, namun secara tahunan masih menguat 83,33 persen dengan kapitalisasi pasar Rp509,05 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saham INCO juga mendapatkan tekanan yang cukup signifikan setelah turun 20,80 persen dalam sepekan ke posisi 5.425.

Pada perdagangan harian terakhir, saham tersebut melemah 13,89 persen. Koreksi mingguan ini menyebabkan penguatan bulanan INCO menyusut menjadi minus 12,50 persen, meskipun secara tahunan masih naik 96,56 persen dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp57,18 triliun sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saham BAPI mengalami koreksi 20,69 persen dalam sepekan ke level 23. Tekanan terlihat pula dalam jangka satu dan tiga bulan dengan penurunan masing-masing 20,69 persen, namun secara tahunan tetap naik 187,50 persen dengan kapitalisasi pasar Rp128,62 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di kelompok berikutnya, SDMU turun sebesar 20,63 persen dalam sepekan ke posisi 100.

Meski terkoreksi mingguan, saham ini tetap mencatat kenaikan 28,21 persen dalam satu bulan dan menguat 300 persen dalam setahun dengan kapitalisasi pasar Rp225,07 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

CNKO juga masuk daftar saham paling merah pekan ini setelah turun 20,34 persen ke level 470. Saham tersebut melemah 20,34 persen dalam satu bulan dan turun 12,96 persen dalam tiga bulan, namun secara tahunan tetap menguat 30,56 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terakhir, TOOL melengkapi daftar sepuluh saham dengan koreksi mingguan terdalam setelah turun 19 persen ke level 81.

Uniknya, TOOL tetap mencatatkan kenaikan 26,56 persen dalam satu bulan dan tumbuh 32,79 persen dalam tiga bulan dengan kapitalisasi pasar Rp166,05 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini