SINGAPURA – Harga minyak dunia dilaporkan melonjak sebesar US$ 3 per barel pada hari ini dikarenakan Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menemui titik temu mengenai proposal perdamaian yang dirancang oleh Washington.
Di saat yang sama, Selat Hormuz sebagian besar masih dalam kondisi tertutup, sehingga menyebabkan pasokan energi global berada dalam posisi terbatas namun tetap stabil.
Pada Senin (11/5/2026) pukul 07.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 terpantau menguat US$ 3,18 atau 3,14 persen ke level US$ 104,47 per barel.
Catatan ini memperpanjang tren kenaikan sebesar 1,23 persen yang terjadi pada hari Jumat (8/5/2026).
Sejalan dengan itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 bertengger di posisi US$ 98,51 per barel.
Angka ini dicapai setelah mengalami kenaikan US$ 3,09 atau 3,24 persen, usai ditutup menguat 0,64 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Ekspektasi akan segera selesainya konflik AS-Iran yang telah berjalan selama 10 minggu guna membuka kembali transit minyak melalui Selat Hormuz harus pupus.
Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump pada hari Minggu menolak tanggapan pihak Iran atas proposal AS untuk pembicaraan damai, dan menyebutnya sebagai "tidak dapat diterima".
Presiden Trump dijadwalkan akan tiba di Beijing pada hari Rabu (13/5/2026) dan diperkirakan akan membicarakan perihal Iran bersama dengan Presiden China Xi Jinping, sebagaimana disampaikan oleh pejabat AS.
"Perhatian pasar sekarang sepenuhnya beralih ke kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok minggu ini," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Ada harapan bahwa ia dapat membujuk Beijing untuk memanfaatkan pengaruhnya atas Iran untuk mendorong gencatan senjata komprehensif dan penyelesaian atas gangguan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz," lanjut Tony Sycamore sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dunia tercatat telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak selama dua bulan terakhir, dan pasar energi diprediksi akan memerlukan waktu untuk kembali stabil meskipun aliran minyak nantinya kembali normal. Hal tersebut disampaikan oleh CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, pada hari Minggu (10/5/2026).
Sementara itu, dua kapal tanker lain yang membawa muatan minyak mentah berhasil keluar dari Selat Hormuz pada pekan lalu dengan kondisi pelacak yang dimatikan untuk menghindari serangan pihak Iran.
Berdasarkan data pengiriman Kpler, hal tersebut menggarisbawahi adanya tren peningkatan upaya untuk "mempertahankan ekspor minyak Timur Tengah" sebagaimana dilansir dari berita sumber.