Laba Bersih CPIN Meroket 67,72 Persen pada Kuartal I 2026

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:03:27 WIB
Ilustrasi PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) (FOTO: idxchannel.com)

JAKARTA – Kondisi finansial PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menunjukkan progres yang sangat positif selama tiga bulan pertama tahun 2026. Hal ini terlihat dari meningkatnya angka penjualan serta perolehan laba bersih perseroan.

Merujuk pada data laporan keuangan, CPIN membukukan nilai penjualan bersih sebesar Rp 19,95 triliun. Angka ini meningkat 12,69% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 17,7 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan menjadi Rp 15,49 triliun dari semula Rp 14,57 triliun. Meskipun demikian, perusahaan tetap berhasil mengamankan kenaikan laba bruto menjadi Rp 4,46 triliun, dari posisi Rp 3,13 triliun pada tahun lalu.

Pada pos operasional, tercatat beban penjualan menyentuh Rp 578,93 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi berada di level Rp 573,42 miliar. Di sisi lain, perseroan meraih penghasilan operasi lain senilai Rp 69,12 miliar, walau terdapat beban operasi lain sebesar Rp 20,54 miliar.

Rangkaian kinerja tersebut mendorong laba usaha perusahaan melonjak ke angka Rp 3,43 triliun dari Rp 2,10 triliun pada periode sebelumnya. Setelah disesuaikan dengan beban keuangan Rp 104,63 miliar, keuntungan selisih kurs Rp 10,78 miliar, serta pendapatan bunga Rp 38,19 miliar, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 3,38 triliun, naik signifikan dari Rp 1,99 triliun.

Sementara itu, beban pajak penghasilan turut naik menjadi Rp 801,63 miliar, sehingga laba periode berjalan yang dikumpulkan mencapai Rp 2,58 triliun, tumbuh dari Rp 1,54 triliun pada tahun sebelumnya. 

CPIN juga mencatat adanya penghasilan komprehensif lain dari pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja sebesar Rp 2,06 miliar, sehingga total penghasilan komprehensif periode berjalan mencapai Rp 2,58 triliun.

Dari sisi laba bersih atau laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, CPIN sukses meraup Rp 2,57 triliun, atau melesat 67,72% yoy dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 1,53 triliun.

Abdul Azis Setyo Wibowo, selaku Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa kokohnya kinerja CPIN pada kuartal I-2026 dipicu oleh kombinasi kenaikan harga jual ayam dan perbaikan pada volume penjualan. Kondisi ini sejalan dengan pulihnya keseimbangan suplai dan permintaan di industri unggas.

"Prospek hingga akhir tahun cenderung positif dengan potensi pertumbuhan berlanjut, didukung stabilnya harga ayam dan efisiensi biaya," kata Azis, Rabu (6/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, ia mengingatkan adanya risiko yang patut diwaspadai, terutama depresiasi rupiah yang bisa mendongkrak biaya bahan baku pakan seperti soybean meal (SBM). Mengenai pergerakan saham, Azis memandang valuasi CPIN saat ini berada di bawah minus dua standar deviasi (SD-2) secara price to earnings ratio (P/E), yang mengindikasikan harga saham sudah murah atau undervalued.

"Dengan perbaikan kinerja yang terjadi, saham CPIN dinilai memiliki peluang untuk mengalami rebound secara teknikal," tambah Azis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tempat berbeda, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pertumbuhan laba dua digit CPIN ditopang oleh fundamental yang kuat serta dukungan kebijakan pemerintah.

Nafan memaparkan bahwa CPIN secara konsisten melakukan ekspansi margin dan optimalisasi efisiensi operasional demi memacu pertumbuhan laba. Stabilnya harga bahan pakan dan efisiensi operasional menjadi kunci utama performa perseroan.

Ia juga menyebutkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah menjadi stimulus bagi permintaan pasar.

"Ada demand booster dari MBG," ucap Nafan kepada Kontan, Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melalui integrasi bisnis hulu ke hilir yang solid, CPIN dinilai sebagai salah satu pemain yang paling diuntungkan dari kenaikan volume permintaan tersebut. Ditambah lagi, konsumsi protein terjangkau seperti daging ayam di masyarakat domestik masih sangat tinggi.

Meski prospeknya positif, Nafan memperkirakan pertumbuhan CPIN akan berjalan moderat. Keberlanjutan program MBG menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

Selain itu, kebijakan pengendalian populasi ayam melalui culling tetap diperlukan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat peternak.

Nafan juga memberikan catatan terkait sentimen negatif seperti pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan biaya distribusi dan logistik yang dapat membebani operasional.

Sebagai rekomendasi, Nafan menyarankan investor untuk melakukan akumulasi beli saham CPIN dengan target harga Rp 5.150. Sementara itu, Azis memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga di level Rp 4.400.

Terkini