Profil Emiten LAPD yang Berencana Right Issue dan Inbreng Saham

Profil Emiten LAPD yang Berencana Right Issue dan Inbreng Saham
Ilustrasi PT Leyand International Tbk (LAPD) (FOTO : NET)

JAKARTA – PT Leyand International Tbk (LAPD) kembali menarik perhatian pasar modal setelah mengumumkan rencana rights issue jilid II dengan menerbitkan maksimal 2 miliar saham baru. Aksi korporasi ini dilakukan sebagai bagian dari transformasi bisnis perseroan usai PT JSI Sinergi Mas masuk sebagai pemegang saham pengendali.

Berbeda dari bidang usaha terdahulu yang berfokus pada pembangkit listrik dan holding investasi, LAPD saat ini diarahkan untuk memperkuat eksposur ke sektor jasa pertambangan. Langkah tersebut ditempuh melalui rencana masuknya PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS).

Perusahaan yang berdiri di Jakarta pada 1990 ini sebelumnya mengoperasikan bisnis pembangkit listrik sebelum akhirnya berkembang menjadi perusahaan holding. Masuknya PT JSI Sinergi Mas membawa strategi pengembangan bisnis baru yang berorientasi pada sektor pertambangan serta energi.

Sektor pertambangan menjadi fokus utama transformasi perseroan saat ini. Melalui rencana akuisisi BSS, LAPD akan memperoleh eksposur sebagai kontraktor pertambangan batu bara dan mineral.

Dalam laporan keuangan, manajemen menyampaikan bahwa BSS sedang dalam proses penandatanganan sejumlah proyek potensial di beberapa lokasi IUP. Langkah ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru karena jasa pertambangan berpotensi menghasilkan pendapatan kontrak operasional tanpa bergantung penuh pada kepemilikan komoditas.

Pada lini distribusi produk konsumen, LAPD sebelumnya memiliki eksposur melalui PT Rusindo Eka Raya (RER) yang bergerak di bidang distribusi produk konsumen, termasuk fast-moving consumer goods (FMCG). Per 31 Maret 2026, perseroan tercatat menguasai 51% saham RER.

Posisi RER dalam struktur bisnis berpotensi bergeser seiring perubahan strategi perusahaan. Manajemen menyebutkan bahwa BSS direncanakan menggantikan peran RER sebagai anak usaha utama dalam transformasi portofolio perseroan.

LAPD juga tetap menjalankan fungsi sebagai perusahaan holding dan penyedia konsultasi manajemen. Struktur ini diarahkan menjadi sarana ekspansi ke sektor pertambangan dan bisnis energi terkait.

Perubahan pada struktur pengendali turut memicu perombakan jajaran manajemen. Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, susunan Direksi diisi oleh Jamal Abdul Nasir Bamadhaj selaku Direktur Utama, serta Bambang Rahardja Burhan, Kiran Raj, Hong Shieh Yung, Travis, dan Achmad Rifky sebagai Direktur.

Sementara itu, Dewan Komisaris dijabat oleh Sayid Muhammad Riyadh selaku Komisaris Utama, Tan Siok Sing sebagai Komisaris, dan Thauriq Anwar sebagai Komisaris Independen. Jamal Abdul Nasir Bamadhaj memegang peranan kunci karena juga merupakan pendiri sekaligus pimpinan JSI Sinergi Mas yang kini memegang 51% saham LAPD.

Berdasarkan publikasi di laman BEI, LAPD menyiapkan rights issue II dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru Seri B bernilai nominal Rp25 per saham. Porsi saham baru tersebut setara dengan 50,42% dari total saham yang telah diterbitkan sebelum aksi korporasi.

Harga pelaksanaan beserta rasio HMETD final akan ditetapkan dalam prospektus, dengan estimasi nilai maksimal aksi korporasi mencapai Rp100 miliar. Persetujuan pemegang saham dijadwalkan melalui RUPSLB pada 20 Oktober 2026.

PT JSI Sinergi Mas selaku pemegang saham pengendali bakal memanfaatkan haknya melalui skema inbreng atau penyetoran modal non-tunai. JSI akan menyerahkan 59.995 saham PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) yang mewakili sekitar 99,99% kepemilikan.

Nilai penyetoran saham BSS diperkirakan mencapai Rp44,39 miliar, di mana JSI akan mengeksekusi haknya atas sekitar 1,02 miliar saham baru LAPD. Dana tunai yang dihimpun dari aksi ini direncanakan untuk modal kerja, operasional, pelaksanaan kontrak, serta pemeliharaan alat.

Langkah rights issue ini dilakukan di tengah kondisi permodalan perseroan yang masih mengalami tekanan. Laporan keuangan kuartal I 2026 mencatat penjualan LAPD sebesar Rp1,52 miliar, turun dari Rp61,96 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Laba bruto tergerus menjadi Rp62,72 juta dari Rp4,51 miliar pada kuartal I 2025. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp3,47 miliar dengan EPS -Rp0,86, berbalik dari capaian laba bersih Rp959,25 juta dan EPS Rp0,24 pada kuartal I 2025.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index