Dampak Erupsi Anak Krakatau Saham Kesehatan Menguat di Awal Pekan

Dampak Erupsi Anak Krakatau Saham Kesehatan Menguat di Awal Pekan
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (FOTO : NET)

JAKARTA – Sejumlah saham emiten kesehatan menguat pada awal perdagangan Senin (7/9/2026). Saham di sektor ini menghijau di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah di Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa saham kesehatan mencatat kenaikan signifikan di awal perdagangan sesi satu hari ini. Bahkan, beberapa saham menguat lebih dari 10 persen.

Saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) menjadi salah satu yang mencatat kenaikan paling tinggi. Saham MEDS melesat 30,56 persen atau 22 poin ke level Rp 94 per saham.

Saham MEDS dibuka pada area Rp 92 dan sempat menyentuh angka tertinggi Rp 97, serta terendah Rp 91. Volume transaksi mencapai 5,40 juta lot, dengan nilai transaksi Rp 51,17 miliar.

Selanjutnya, saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menguat 14,77 persen atau 65 poin menjadi Rp 505 per saham. KAEF sempat menyentuh level tertinggi Rp 550 dan terendah Rp 490, dengan nilai transaksi saham ini mencapai Rp 6,76 miliar dan volume 129.270 lot.

Saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) juga naik 10,16 persen atau 38 poin ke posisi Rp 412 per saham. Saham IRRA sempat menyentuh level tertinggi Rp 450 dan terendah Rp 404, serta nilai transaksinya sekitar Rp 3,11 miliar.

Kemudian, saham PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menguat 8,06 persen atau 20 poin ke level Rp 268 per saham. Saham OMED sempat berada pada level tertinggi Rp 300 dan terendah Rp 262, dengan nilai transaksi Rp 32,53 miliar.

Saham PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) juga menguat 7,25 persen atau 20 poin menjadi Rp 296 per saham. PYFA sempat menyentuh posisi tertinggi Rp 314 dan terendah Rp 290, serta nilai transaksi sekitar Rp 26,87 miliar.

Sementara, saham PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) naik 1,88 persen atau 15 poin ke level Rp 815 per saham. Saham MMIX sempat mencapai angka tertinggi Rp 830 dan terendah Rp 800, dengan nilai transaksi Rp 29,12 miliar.

Kenaikan juga terjadi pada saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), yakni 2,58 persen atau 20 poin ke area Rp 795 per saham. KLBF sempat menyentuh level tertinggi Rp 825 dan terendah Rp 790, serta nilai transaksi saham ini mencapai Rp 73,10 miliar.

Adapun saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) menguat 1,77 persen atau 50 poin menjadi Rp 2.870 per saham. PRDA sempat berada pada level tertinggi Rp 2.940 dan terendah Rp 2.830, dengan nilai transaksi sekitar Rp 4,97 miliar.

Risiko kesehatan mencakup catatan dari BRI Danareksa Sekuritas bahwa paparan abu vulkanik berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama gangguan pernapasan dan iritasi mata. Kondisi itu berpotensi mendorong peningkatan kebutuhan terhadap masker, obat-obatan untuk gangguan pernapasan, serta berbagai produk kesehatan lainnya.

Sentimen tersebut dinilai dapat menjadi katalis positif jangka pendek bagi sejumlah emiten di sektor kesehatan. Terutama perusahaan yang memiliki eksposur terhadap produk masker, obat-obatan pernapasan, dan produk kesehatan terkait.

“Paparan abu vulkanik berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan iritasi mata, sehingga dapat mendorong kebutuhan terhadap masker, obat-obatan terkait ISPA, serta produk kesehatan lainnya,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, sentimen tersebut masih perlu dicermati karena dampaknya terhadap kinerja emiten kesehatan belum tentu bersifat jangka panjang. Sentimen erupsi Gunung Anak Krakatau diperkirakan lebih bersifat katalis jangka pendek bagi sektor kesehatan.

Perkembangan aktivitas erupsi dan luas sebaran abu vulkanik menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Selain itu, konfirmasi melalui peningkatan volume transaksi dan keberlanjutan momentum penguatan diperlukan untuk melihat apakah kenaikan sektor kesehatan dapat berlanjut atau hanya bersifat sementara.

“Kami melihat sentimen ini lebih bersifat short-term catalyst, dengan perkembangan erupsi dan luas sebaran abu menjadi faktor utama yang perlu dicermati. Konfirmasi volume dan keberlanjutan momentum tetap diperlukan untuk melihat potensi lanjutan penguatan sektor,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index