FINANSIALINSIGHT.COM — Destry menyadari laju inflasi tidak selalu berasal dari permintaan masyarakat yang terlalu kuat. Sering kali, harga melonjak justru karena pasokan di lapangan tersendat, mulai dari gagal panen hingga masalah distribusi antarwilayah. Kondisi ini yang membuat BI perlu bergerak di luar kebijakan suku bunga acuan.
“Kaitannya dengan misalnya kita ada mengarah sekarang ini kayak volatile food inflation. Inflasi kan salah satu juga target di kami untuk menjaga, dijaga stabilitasnya,” kata Destry di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).
46 Kantor Cabang Jadi Garda Terdepan
Untuk mengatasi masalah pasokan, BI tidak akan bekerja sendiri. Destry mengungkapkan bahwa pihaknya akan memaksimalkan jaringan kantor daerah untuk turun langsung memantau kondisi pangan di lapangan. Setiap kantor cabang nantinya diminta berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
“Contohnya supply untuk pangan misalnya, nah kan Bank Indonesia nggak mungkin sendiri melakukan itu, maka dengan pemerintah daerah, kemudian juga dengan kementerian-kementerian, Kementerian Pertanian ataupun kementerian terkait lainnya, itu kita bekerja sama bagaimana ke daerah-daerah,” paparnya.
Rencana ini sejalan dengan tema kepemimpinan Destry yang diberi nama “Sinergi Merah Putih”. Ia pun memberi contoh konkret: ketika terjadi kelangkaan cabai atau bawang merah di sebuah wilayah, kantor BI daerah akan langsung berkoordinasi dengan pemda maupun dinas terkait untuk mencari solusi.
“Kami punya 46 kantor cabang, kantor Bank Indonesia daerah, bekerja sama dengan Pemda dan juga lembaga lain terkait untuk bisa mengatasi kelangkaan, misalnya ada masalah cabai, ada masalah bawang merah. Itu bentuk konkret kalau kita bicara sektor riil terkait dengan pangan,” bebernya.
Dorong Transaksi Mata Uang Lokal
Bersamaan dengan penanganan inflasi, BI juga akan memperkuat program Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi perdagangan dan investasi. Destry menyebut inisiatif ini sudah masuk tahap implementasi lewat pembentukan working group bersama sejumlah kementerian teknis.
“Kemudian juga kerja samanya terkait misalnya kita mendorong Local Currency Transaction ya untuk usaha kita. Nah ini kita punya semacam working group di mana di situ kementeriannya ada dari Perdagangan ada, dari BKPM ada, dari Industri di mana kayak ada pertemuan yang rutin karena itu terkait dengan investasi dan juga perdagangan,” ujarnya.
Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan transaksi pada dolar AS sekaligus memperlancar arus perdagangan bilateral. Program tersebut, kata Destry, akan terus didorong sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam kerangka tugasnya, stabilitas nilai tukar rupiah memang menjadi prioritas utama BI. Kestabilan ini diukur dari dua sisi: nilai rupiah terhadap barang dan jasa yang tercermin dari inflasi, serta nilai rupiah terhadap mata uang asing yang tecermin dari kurs. Dengan strategi baru ini, BI berharap tekanan inflasi dari sisi pasokan bisa diredam lebih cepat, tanpa harus selalu mengandalkan penyesuaian suku bunga.