BNC Genjot Kredit via Fintech Rp8 Triliun, Allo Andalkan Direct Lending

BNC Genjot Kredit via Fintech Rp8 Triliun, Allo Andalkan Direct Lending

FINANSIALINSIGHT.COM — Memasuki paruh kedua 2026, peta persaingan bank digital di Indonesia kian terlihat jelas. Ada yang memilih agresif menyalurkan kredit lewat kemitraan dengan fintech, ada pula yang konsisten mengandalkan pembiayaan langsung. Keduanya sama-sama mengejar pertumbuhan, tapi dengan cara yang berbanding terbalik.

Dua Jalur, Satu Tujuan: Menyeimbangkan Ekspansi dan Risiko

Tekanan untuk tumbuh di tengah ketatnya persaingan memaksa bank digital mencari pola penyaluran kredit yang efisien. Namun, ekspansi tanpa kendali berisiko menaikkan kredit macet. Karena itu, masing-masing bank memiliki pendekatan berbeda.

BNC memilih strategi konservatif di 2025 dengan memperketat proses underwriting. Hasilnya, kualitas aset membaik, tapi penyaluran kredit justru terkontraksi.

Strategi BNC: Hati-Hati di 2025, Agresif Lewat Fintech di 2026

Chief Financial Officer BNC Sufen Triantio mengungkapkan, penurunan kredit pada semester I-2026 merupakan konsekuensi dari pengetatan yang dilakukan tahun sebelumnya. Kredit BNC tercatat Rp7,13 triliun, turun 11,79% secara tahunan dari Rp8,09 triliun.

"Strategi kita di 2025 itu benar-benar sangat hati-hati, kita melakukan pengetatan kredit. Nah, oleh sebab itulah memang pengetatan kredit, aset kualitasnya jadi bagus, tapi disbursement-nya jadi turun," ujar Sufen.

Memasuki 2026, BNC mulai melonggarkan sedikit kebijakan credit scoring yang terlalu ketat. Hasilnya mulai terlihat—outstanding kredit yang sempat stabil di Rp7 triliun naik ke Rp7,1 triliun, dan per Juli 2026 sudah mencapai Rp7,3 triliun.

"Kita sudah mulai melihat, apakah persyaratan credit scoring kita yang ketat itu ada yang bisa kita optimalisasi sehingga dapat memberikan approval rate yang lebih baik. Hal itu sudah mulai memberikan hasil," jelas Sufen.

Ke depan, BNC tidak hanya mengandalkan direct lending. Perseroan akan memperbesar porsi kredit melalui skema channeling fintech yang dinilai menjadi mesin pertumbuhan tahun ini. Saat ini BNC telah bekerja sama dengan sekitar 10 fintech besar dan sedang menjajaki dua mitra tambahan.

"Sebagian besar growth itu akan didominasi dari sisi channeling fintech," ungkap Sufen.

Allo Bank: Percaya Diri dengan Direct Lending

PT Allo Bank Indonesia Tbk mengambil posisi berbeda. Perseroan tetap menjadikan penyaluran kredit langsung sebagai andalan utama. Corporate Secretary Allo Bank Stacey Aryadi Suryoputro menyebut, prospek pembiayaan tahun ini didukung oleh membaiknya kebutuhan kredit di berbagai sektor.

Sentimen positif juga datang dari insentif likuiditas pemerintah dan kondisi suku bunga yang akomodatif. Optimisme ini terbukti dari kinerja intermediasi perseroan yang mencatat kredit Rp9,547 triliun per 30 Juni 2026, tumbuh 28% secara year-on-year, ditopang segmen ritel dan wholesale.

"Bank menargetkan pertumbuhan baik untuk kredit maupun pendanaan di atas rata-rata level pertumbuhan industri perbankan sehingga mampu tumbuh positif secara berkelanjutan," ujar Stacey.

Untuk menggenjot kinerja, Allo Bank akan memperkuat ekosistem dan kemitraan strategis, sembari meningkatkan kemampuan credit underwriting berbasis data analytics dan artificial intelligence (AI).

Proyeksi: Mana yang Lebih Efektif?

Perbedaan strategi ini mencerminkan kondisi internal masing-masing bank. BNC yang tengah memulihkan diri dari kerugian di 2022-2023 butuh pendekatan mitigasi risiko yang lebih ketat, sehingga channeling fintech menjadi jalan tengah untuk menjaga pertumbuhan tanpa menambah beban operasional. Sementara Allo Bank yang sudah memiliki basis ekosistem kuat merasa percaya diri mempercepat direct lending.

Keputusan BNC untuk menggenjot channeling fintech juga didasari keunggulan kompetitif yang sudah terbangun. Dengan target kredit Rp8 triliun, kontribusi terbesar akan datang dari kemitraan fintech yang dianggap lebih efisien dalam menjangkau segmen yang belum terlayani perbankan konvensional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index