JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja yang positif sepanjang semester I 2026. Kendati demikian, harga saham lapis satu di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut terpantau masih berada di level bawah.
Saham blue chip sendiri merupakan saham lapis pertama dari entitas bisnis yang memiliki fundamental kokoh serta likuiditas pasar tinggi. Saham ANTM pun telah lama menjadi bagian dari indeks LQ45 di BEI.
Pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, saham ANTM ditutup turun 20 poin atau 0,63% secara harian ke level Rp 3.160. Posisi tersebut belum pulih jika dibandingkan dengan level tertinggi tahun ini yang sempat menyentuh kisaran Rp 4.600-Rp 4.700.
Di sisi lain, ANTM berhasil mengantongi laba periode berjalan senilai Rp 6,91 triliun pada semester I-2026. Perolehan tersebut mengalami peningkatan sebesar 34% secara tahunan (year on year/yoy).
Lonjakan laba bersih ini berjalan beriringan dengan penguatan EBITDA yang mencapai Rp 9,62 triliun atau naik 35% yoy.
Dari segi top line, ANTM membukukan penjualan bersih senilai Rp 62,71 triliun yang tumbuh 6% yoy. Penjualan di pasar domestik tetap menjadi penopang utama dengan menyumbang Rp 60,15 triliun atau setara 96% dari total penjualan.
Komoditas emas menjadi pendorong utama pendapatan ANTM dengan kontribusi mendekati 80%. Nilai penjualan emas menembus Rp 50,39 triliun, tumbuh 1% yoy, dengan volume transaksi mencapai 18.080 kilogram atau setara 581.286 troy ounce.
Sementara itu, lini bisnis nikel yang mencakup feronikel dan bijih nikel memberikan kontribusi sekitar 17% terhadap total omzet. Angka penjualannya tercatat sebesar Rp 10,41 triliun atau melonjak 32% yoy.
Dari operasionalnya, ANTM menjual bijih nikel sebanyak 6,77 juta wet metric ton (wmt) dan feronikel sejumlah 7.605 ton nikel dalam feronikel (TNi).
Lini bauksit dan alumina juga menunjukkan performa positif dengan nilai penjualan Rp 1,88 triliun atau melesat 28% yoy, serta menyumbang 3% dari total pendapatan.
Untuk volume perjalanannya, bijih bauksit terealisasi sebesar 1,26 juta wmt dan produk alumina sebesar 100.437 ton.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira menyatakan bahwa fokus perusahaan saat ini adalah memastikan pertumbuhan kinerja tersebut dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
ANTM juga secara konsisten memperkuat tata kelola modal kerja dan persediaan, cash conversion, serta mengeksekusi alokasi modal secara hati-hati (prudent).
"Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh serta fleksibilitas keuangan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional, mendukung agenda pertumbuhan, dan menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan," ungkap Arini dalam keterbukaan informasi, Jumat (28/8) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengenai prospek di paruh kedua, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai kinerja ANTM pada semester II-2026 tetap positif.
Pergerakan harga emas dipandang Rully sebagai salah satu pemicu utama bagi ANTM. Harga emas yang menguat di kisaran US$ 4.500 per ons troi memberi topangan kuat pada bisnis emas sebagai penyumbang pendapatan terbesar perseroan.
Selain emas, laju kinerja ANTM pada semester II-2026 dipengaruhi oleh harga nikel, alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), hingga tingkat pemanfaatan fasilitas pengolahan.
"Emas memberikan dukungan earnings dalam jangka pendek, sementara nikel dan hilirisasi menjadi sumber pertumbuhan berikutnya," kata Rully, Minggu (30/8) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di tengah tingginya harga emas, Rully memandang ANTM harus tetap menjamin ketersediaan pasokan demi memenuhi tingginya permintaan pasar domestik.
ANTM juga perlu menggenjot porsi pasokan emas dari hasil penambangan sendiri. Strategi ini krusial agar apresiasi harga emas dapat memberikan dampak yang lebih optimal pada margin perseroan.
Di samping itu, Rully menyarankan agar ANTM menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan capital expenditure (capex), modal kerja, serta arus kas.
Posisi kas ANTM yang berada di kisaran Rp 9,2 triliun pada semester I-2026 memberi keleluasaan bagi perseroan untuk berekspansi. Kendati demikian, pengerjaan proyek-proyek hilirisasi memerlukan pendanaan modal yang sangat besar.
"Oleh karena itu, pertumbuhan volume dan ekspansi kapasitas perlu tetap diikuti dengan return on investment yang memadai," imbuh Rully sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menambahkan, tingginya potensi permintaan emas dalam negeri perlu direspons ANTM lewat peningkatan kapasitas fasilitas pemurnian.
ANTM pun dinilai perlu memperluas kemitraan dengan bullion bank dan memperluas jaringan distribusi secara luring maupun digital.
Mencermati berbagai potensi tersebut, Harry menetapkan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga di level Rp 4.600 per saham.
Pandangan ini sejalan dengan penilaian Harry sebelumnya yang menganggap ANTM memiliki karakter yang cukup defensif di tengah tren kenaikan harga emas.
Walau begitu, pelaku pasar tetap disarankan mewaspadai potensi koreksi harga emas, pergerakan harga nikel, porsi belanja modal, serta kemampuan ANTM dalam menjaga margin dan arus kas.
Dengan demikian, harga emas masih menjadi pemicu utama kinerja ANTM dalam jangka pendek, sedangkan pengembangan lini nikel dan proyek hilirisasi akan menentukan arah pertumbuhan jangka menengah perseroan.