JAKARTA – PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian setelah mengumumkan rencana rights issue jumbo hingga 100 miliar saham baru.
Aksi korporasi ini ditujukan untuk menghimpun dana sekitar Rp4,4 triliun yang akan digunakan terutama untuk mengakuisisi dua perusahaan pemilik lahan di Surabaya dan Maja, Banten, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Jumlah saham baru yang akan diterbitkan setara sekitar 90,46% dari modal ditempatkan dan disetor penuh KOTA setelah rights issue. Hal ini berpotensi memberikan dilusi sangat besar kepada pemegang saham lama yang tidak mengambil haknya.
Di sisi lain, manajemen menyatakan bahwa aksi tersebut tidak mengubah pengendali KOTA. Harga saham KOTA mengalami kenaikan, termasuk pada sesi 1 perdagangan Senin (31/8), di mana emiten ini mengalami kenaikan 11,80% ke Rp180/saham pada pukul 09.15 WIB.
DMS Propertindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan properti, perhotelan, serta manajemen hotel. Perseroan mengembangkan kawasan hunian dan komersial, sedangkan bisnis hospitality dijalankan melalui aset dan entitas anak.
Konsep bisnis properti KOTA selama ini banyak diarahkan pada pengembangan kawasan dengan pendekatan mixed-use dan livable city, yakni menggabungkan hunian dengan fasilitas komersial serta fasilitas pendukung lainnya. Target pasarnya mencakup segmen menengah hingga menengah atas, serta hunian yang lebih terjangkau.
Perseroan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2019 melalui IPO dengan harga penawaran Rp200 per saham. Pada saat IPO, dana yang dihimpun digunakan antara lain untuk pembelian lahan dan kebutuhan modal kerja.
Lini bisnis utama KOTA adalah pengembangan properti, di mana perseroan mengembangkan kawasan hunian, komersial, dan proyek dengan konsep kawasan terpadu. Salah satu karakteristik bisnisnya adalah mengembangkan landbank menjadi proyek properti secara bertahap, sehingga nilai ekonomi perusahaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengakuisisi lahan di lokasi strategis lalu mengubahnya menjadi proyek yang menghasilkan penjualan.
KOTA sebelumnya memiliki sejumlah proyek di Jawa Barat dan Kalimantan Timur, termasuk rencana pengembangan Accola Garden Samarinda dan proyek Padjadjaran City di Bandung.
Selain properti, KOTA mempunyai bisnis hospitality dengan mengelola dan memiliki eksposur terhadap beberapa hotel. Contohnya adalah Fabu Hotel Bandung dengan sekitar 86 kamar, Zest Hotel Yogyakarta dengan 106 kamar yang dioperasikan oleh Swiss-Belhotel International, serta Indies Heritage Hotel Yogyakarta dengan 74 kamar.
Bisnis hotel memberikan sumber pendapatan berulang yang berbeda karakter dengan penjualan properti. Dalam laporan 2025, pendapatan hotel menjadi salah satu sumber utama pendapatan KOTA.
KOTA juga memiliki bisnis hospitality management, baik melalui perusahaan sendiri maupun entitas anak. Pengembangan properti dan hospitality management disebut sebagai dua fokus utama bisnis pada situs resmi perseroan.
Rencana rights issue menjadi bagian paling penting dari profil KOTA saat ini. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 100 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp25 per saham, dengan target dana sekitar Rp4,4 triliun dan porsi terhadap modal setelah rights issue mencapai 90,46% tanpa mengubah pengendali.
Tujuan utama rights issue tersebut adalah untuk akuisisi 2 perusahaan guna membidik total lahan seluas 571 hektare. Nilai Rp4,4 triliun merupakan nilai transaksi akuisisi, sedangkan laporan lain menyebut target penghimpunan dana rights issue dapat mencapai sekitar Rp4,95 triliun, di mana selisih sekitar Rp550 miliar direncanakan untuk kebutuhan modal kerja, operasional, dan pengembangan usaha.
Dalam rencana penggunaan dana tersebut, KOTA akan mengambil alih 99,99% saham PT Art Design Indonesia (ADI) sebesar Rp1,2 triliun untuk lahan 23 ha di Surabaya dan 99,99% saham PT Mandiri Nusa Graha Perkasa (MGNP) sebesar Rp3,2 triliun untuk lahan 548 ha di Maja, Lebak, dari PT Michel Energi.
Untuk ADI, lahan tersebut merupakan bagian dari rencana kawasan terpadu East Gate Surabaya di Gunung Anyar, Surabaya, di mana ADI disebut memiliki 96 sertifikat HGB. Sementara MGNP memiliki sekitar 548 hektare lahan di Maja, Lebak, yang direncanakan untuk pengembangan kawasan hunian terpadu Green Maja City.
Melalui transaksi ini, KOTA pada dasarnya ingin melakukan lompatan skala bisnis dari pengembang dengan aset sekitar Rp2 triliun menjadi perusahaan dengan basis aset yang jauh lebih besar. Secara proforma, total aset KOTA diproyeksikan meningkat dari sekitar Rp1,91 triliun menjadi Rp7,46 triliun per 30 Juni 2026 setelah memperhitungkan transaksi akuisisi.
Berdasarkan data BEI, PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) membukukan pendapatan sebesar Rp33,68 miliar pada kuartal II 2026, relatif stabil dibandingkan Rp33,62 miliar pada kuartal I 2026. Namun, secara tahunan pendapatan tersebut melonjak dibandingkan Rp11,49 miliar pada Q2 2025, di mana data eksternal juga mengonfirmasi bahwa kinerja KOTA pada 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor KOTA pada Q2 2026 mencapai Rp25,82 miliar dengan margin kotor sekitar 76,7%. Beban operasional tercatat Rp13,13 miliar sehingga perseroan menghasilkan laba operasional Rp12,69 miliar, yang mana kinerja ini jauh lebih baik dibandingkan Q2 2025 ketika KOTA masih mencatat rugi operasional Rp1,70 miliar.
Kinerja sebelum pajak juga membaik dengan laba sebelum pajak Q2 2026 mencapai Rp23,94 miliar, dibandingkan rugi sebelum pajak Rp10,27 miliar pada Q2 2025. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp874,19 juta, KOTA mencatat laba bersih Rp10,38 miliar pada Q2 2026.