WASHINGTON – Dolar AS berada dalam posisi melemah serta mengarah pada penurunan mingguan pada Jumat akibat investor menganggap langkah Departemen Keuangan AS melakukan pembelian kembali obligasi negara hanyalah penanganan jangka pendek.
Kebijakan tersebut turut memicu keraguan baru terkait langkah pemerintah AS yang kian aktif dalam memengaruhi dinamika pasar, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan pada Kamis (20/8) malam bahwa pihak pemerintah berpeluang kembali meningkatkan volume pembelian Treasury.
Pada hari sebelumnya, Departemen Keuangan mengumumkan rencana menggandakan nilai buyback obligasi tenor panjang pada kuartal berikutnya demi meredam lonjakan imbal hasil.
Bessent turut menyatakan bahwa pihaknya bersama Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought bakal menjalankan langkah baru untuk konsolidasi fiskal sesuai arahan Presiden AS Donald Trump.
Meskipun demikian, berbagai upaya tersebut belum sanggup menghentikan aksi jual Treasury dan malah memberikan tekanan pada dolar AS.
Para pelaku pasar kian cemas terhadap pemburukan kondisi fiskal AS serta kembali mempertanyakan kredibilitas lembaga pemerintah.
Di tengah tekanan pada dolar, euro berada dekat level tertinggi tiga bulan di kisaran US$1,1685 dan berpotensi mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 1%.
Poundsterling turut mendekati posisi tertinggi dalam enam bulan setelah menguat 0,08% ke level US$1,3643, sehingga penguatannya sepanjang pekan mencapai sekitar 0,8%.
Indeks dolar AS bergerak menuju penurunan mingguan melebihi 0,8% dan berada di posisi 98,82, mendekati titik terendah tiga bulan terhadap enam mata uang utama.
Carol Kong, ahli strategi valuta asing di Commonwealth Bank of Australia, menyatakan, "Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Treasury merupakan contoh lain penggunaan instrumen tidak konvensional oleh pemerintah AS untuk mengendalikan biaya pinjaman," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan saat utang pemerintah dan defisit fiskal AS terus membengkak, ditambahi oleh ketidakpastian arah kebijakan.
Dinamika tersebut berisiko semakin menekan sentimen investor atas aset berdenominasi dolar AS sekaligus memicu langkah lindung nilai serta diversifikasi.
Mata uang global lainnya turut menguat atas dolar AS. Dolar Australia naik 0,13% ke US$0,7123, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,23% ke US$0,5957 dan menuju kenaikan mingguan di atas 1%.
Yen Jepang mengalami pelemahan 0,05% ke 159,12 per dolar, masih terbebani oleh jurang perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang.
Data resmi pada Jumat memperlihatkan inflasi konsumen inti Jepang merangkak naik pada Juli dibanding periode tahun sebelumnya.
Perkembangan data tersebut memperkuat alasan bagi bank sentral Jepang untuk menaikkan tingkat suku bunga.
Imbal hasil Treasury 30 tahun merangkak naik sekitar 1,4 basis poin menuju 5,2508% pada Jumat (21/8).
Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun hinggap di 4,7041% usai sempat melonjak 4,5 basis poin, mengindikasikan dampak positif awal dari skema buyback Bessent mulai meredup.
Vitali Meschoulam, ahli strategi Goldman Sachs, menyatakan, "Kami tidak meragukan kemampuan pembuat kebijakan untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sejarah membuktikan bahwa instrumen kebijakan semacam itu memang sanggup memberikan dampak, setidaknya untuk kurun waktu sementara.
Namun, menurutnya, kendala utama yang dihadapi AS saat ini kian berfokus pada ranah fiskal, bukan sekadar kendala teknis pasar obligasi.
Yurisdiksi negara maju menunjukkan bahwa premi jangka panjang dapat ditekan.
Meski begitu, rekam jejak negara berkembang membuktikan bahwa saat fokus pasar mulai tertuju pada kapabilitas pemerintah mendanai utangnya, efektivitas langkah penekanan imbal hasil akan kian terbatas.
Kecemasan atas nilai utang pemerintah AS yang telah melewati US$40 triliun turut mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke aset alternatif seperti emas dan Bitcoin.
Harga Bitcoin bahkan melesat ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Jumat.
Harganya terakhir tercatat menguat 1,6% menjadi US$73.823,43 dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 17%, yang bakal menjadi lonjakan mingguan terbesar dalam dua setengah tahun.